Home » Opini » Podium »
Teu Boga Uyah Uyah Acan
Kamis, 10 September 2009 | 09:21 WIB
A A A Dibaca 1805 kali

    SEJAK duduk di bangku "Sekolah Rakyat" atau SR tahun 1960 an—yang kemudian menjadi "Sekolah Dasar" (SD)—Mang Jumad sudah mendapat pengertian dan pemahaman. Bahwa Republik Indonesia negara agraris. Negara penghasil komoditas pertanian. Padi, jagung, kacang, sayuran, dan sebagainya, dari kawasan daratan dan pegunungan. Berpadu dengan kawasan lautan yang menghasilkan aneka macam ikan, agar agar, garam, dan lain lain.

    Dalam pelajaran Ilmu Bumi—sekarang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)—Bapak atau Ibu Guru sering mengulang ulang nama nama tempat yang menjadi penghasil komoditas daratan dan lautan. Karawang, Indramayu, penghasil padi, Madura penghasil garam, Bagan Siapi api pelabuhan ikan, Pematangsiantar penghasil teh, dan seterusnya. Menggambarkan kesuburmakmuran Indonesia, yang "gemah ripah loh jinawi", rakyatnya giat bekerja, aktif kreatif dan mandiri.

    Tentu saja Mang Jumad amat terkejut ketika membaca sebuah berita pada sebuah surat kabar nasional. Di situ disebutkan, RI terjebak impor pangan. Setiap tahun menghabiskan devisa Rp 50 triliun hanya untuk membeli gula, susu, kedelai, daging sapi. Bahkan garam. Ya, garam.

    "Asa kabina bina teuing," Mang Jumad menggerutu. Karena sepengetahuan dia, untuk urusan garam, masa iya harus membeli dari luar negeri. Bukankah pantai Laut Jawa sejak utara Banten hingga Tuban di Jawa Timur kaya akan bahan garam? Juga Madura yang terkenal dengan nama "Pulau Garam". Jika benar untuk garam saja sudah harus impor dengan melalap devisa hingga Rp 900 miliar, apa jadinya kondisi bangsa Indonesia ?

    Mang Jumad ingat petatah petitih para tetuanya—ayah, kakek, dan buyut—bahwa setiap manusia harus mau bekerja agar dapat makan serta hidup layak. "Kudu ngakal ambeh ngakeul." Mencari nafkah halal untuk mendapat sumber pemenuhan kebutuhan sehari hari. Dan yang paling diingat oleh Mang Jumad adalah ukuran kemiskinan seseorang jika di dapurnya sudah tidak ada sebutir garam pun. "Teu boga uyah uyah acan", itulah ukuran derajat terendah dari kehidupan seseorang, berdasarkan takaran kearifan lokal masa itu.

    Berkali kali Mang Jumad menelaah berita itu. Ia ingin tahu penyebab kemerosotan nilai manusia Indonesia yang harus menderita trauma "teu boga uyah uyah acan". Ternyata konon, dikarenakan kebijakan ekonomi nasional yang bias industri telah mengabaikan potensi pangan lokal dan kebutuhan pangan warga sehingga untuk urusan isi perut saja harus main impor.

    Isi otak Mang Jumad yang cuma produk sekolah rendah itu mampu juga mencerna makna "bias industri". Ya, mau menjadi negara industri, tak kesampaian. Tanggung. Sedangkan posisi negara agraris dan maritim sudah ditinggalkan. "Ka luhur teu sirungan ka handap teu akaran." Pabrik pabrik industri yang ada, selain melalap habis lahan lahan pertanian, juga merusak keseimbangan ekologi. Sungai, danau, bendungan, menjadi tempat penampungan limbah hitam pekat mengandung racun. Menjadi kawasan mati membangkai yang tak lagi punya peran dan fungsi bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia.

    Kebijakan "bias industri" itu, langsung atau tidak, memutus generasi muda petani dan nelayan. Mereka lebih tergiur menjadi kuli berupah rendah tapi bergengsi tinggi, daripada bergumul lumpur sawah ladang atau memantang asin gelombang, berjuang memenuhi ketersediaan pangan lokal dan nasional.

    Mang Jumad sendiri cuma bisa mengelus dada ketika anak anak dan cucu cucunya berangkat ke pabrik tanpa menoleh sedikit pun ke lahan lahan "gambluing" telantar yang sudah mulai diincar investor perumahan dan bangunan lain. Jika kelak terjadi, tak akan ada lagi padi, palawija, dan sejenisnya akan tumbuh di sana. Habis oleh tembok tembok kokoh dan limbah yang dibuang seenaknya.

        Kalau semua bahan pangan sudah impor, apa jadinya bangsa dan negara agraris ini. Apalagi jiga hanya untuk garam saja, harus impor pula.

    "Bisa bisa kita akan menjadi bangsa teu uyahan," gumam Mang Jumad lesu.
    Ya, "teu uyahan" adalah sebuah babasan (kiasan) untuk menggambarkan seseorang yang rendah, hina, tak punya martabat apa apa. Masya Allah. (*)

H.USEP ROMLI HM, Budayawan Sunda
 

Editor :
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

Inilah bukti kalau Idiologi Sekuler Kapitalis itu milik penjajah,melalui Demokrasi nya rakyat di bodohkan Aset negri di gadaikan,semua menjadi di kelola asing,masyarakat tidak lagi di motivasi untuk produksi sebab mekanisme nya di hambat dengan berbagai kebijakan yang menyulit kan rakyat,pokok nya semua harus ketergantungan kepada asing,padahal Indonesia negri kaya raya rakyatnya hidup ketelangsara. Makanya satnya kita menjadi tuan di negri sendiri dengan melepaskan idiologi penjajah(Sekuler)

Komentar Oleh: Ujang Eman S | Rabu, 17 Maret 2010 | 07:08 WIB

Kutan kitu kaayaan nagara urang teh ? Sagala meuli ti luar nagri ? Piraku sugan presiden-wapres anyar ngantep kaayaan samodel ayeuna. Sok geura beulian beas, sayuran dagangan abi di cikurubuk maraur nalambru bae teu payu.

Komentar Oleh: jajat sudrajat | Jumat, 11 September 2009 | 07:00 WIB

Di lembur bunda mah teu uyahan itu sama dengan pikasebeleun,rehe, teu lucu. Pikasebeleun ya uyah-uyah acan harus impor. Ya sama saja dengan tidak punya martabat. Satuju lah pa usep romli

Komentar Oleh: bunda dyah | Jumat, 11 September 2009 | 06:56 WIB

Akses http://m.tribunjabar.co.id dan dapatkan berita terbaru langsung di ponsel anda.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
TUKAR RANTANG
Galeri Foto
TUKAR RANTANG
more on galeri foto
Selasa, 7 September 2010 | 19:46 WIB
Selasa, 31 Agustus 2010 | 20:16 WIB
Jumat, 27 Agustus 2010 | 23:40 WIB
Selasa, 24 Agustus 2010 | 22:38 WIB
Selasa, 10 Agustus 2010 | 19:25 WIB