Buat saya kupu-kupu hidup jauh lebih indah. Exciting melihat kupu-kupu terbang lincah di pagi hari. Sedang cari makan di kelopak bunga, cari pasangan, atau baru keluar dari kepompong.
LENIA
Pengunjung Taman Kupu-kupu
MENIKMATI keindahan corak warna di sayap kupu-kupu, sering membuat kagum. Bahkan banyak yang lupa waktu saking asyiknya mengamati sayap kupu-kupu. Perpaduan warna coklat hitam tampak menyerupai motif batik, dominan hitam dan garis kuning menyerupai lukisan abstrak. Lainnya mirip jalinan kain perca beludru aneka warna.
Beberapa orang bahkan sengaja merekam keindahan tersebut dalam ingatan dan menjadikannya sebagai penawar stres yang cukup ampuh. Ada pula kolektor dan peneliti yang mengawetkan spesies kupu-kupu tertentu untuk mempermudah proses identifikasi.
"Buat saya kupu-kupu hidup jauh lebih indah. Exciting melihat kupu-kupu terbang lincah di pagi hari. Sedang cari makan di kelopak bunga, cari pasangan, atau baru keluar dari kepompong," ujar Lenia seorang pengunjung Taman Kupu-kupu Cihanjuang, akhir pekan lalu.
Indra Muchtar, tour guide tempat penangkaran kupu-kupu ini menjelaskan, kupu-kupu bukanlah serangga agresif dan tidak canggung berdekatan dengan manusia. Interaksi antara manusia dan kupu-kupu kadang terjadi ketika kupu-kupu mencari serbuk sari bunga.
"Kupu-kupu selalu mengandalkan tajamnya daya penciuman. Tapi secara naluri kupu-kupu senang hinggap di benda-benda berwarna cerah. Termasuk di topi atau pakaian pengunjung," jelas Indra sambil tersenyum.
Kesenangan berinteraksi dengan kupu-kupu dialami langsung Ny Sri Agustina. "Semula saya sempat heran karena dari tadi waktu keliling taman dikerubungi kupu-kupu terus. Kayaknya karena saya pakai baju warna merah terang," ujarnya.
Sementara itu Indra menambahkan, keberadaan tempat wisata penangkaran kupu- kupu di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat ini memiliki misi khusus.
"Kami ingin mengenalkan kehidupan kupu-kupu kepada masyarakat dengan cara yang menyenangkan. Sekaligus menggugah kesadaran kita agar mau ikut melestarikan kupu-kupu agar tidak punah," jelasnya.
Terkait proses hidup kupu-kupu ada tempat lain yang tak kalah menarik buat dikunjungi. Yaitu pelopor wisata ulat sutera, Padepokan Dayang Sumbi di Desa Pamoyanan, Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Padepokan Dayang Sumbi yang didirikan Wibowo Moerdoko telah membudidayakan ulat sutera sejak tahun 1994. Kemudian diresmikan sebagai tempat wisata ulat sutera sejak lima tahun lalu.
Di tempat yang berada di ketinggian 700 meter dpl ini, pengunjung bisa melihat langsung budidaya sutera, penetasan, cara membuat benang sutera, hingga cara menenun kain sutera menjadi produk tekstil berkualitas tinggi. (rry)