Home » Metro Bandung »
Tan Deseng, Barongsai, dan Gamelan Sunda
Senin, 8 Februari 2010 | 20:26 WIB
A A A Dibaca 520 kali
TAN DENGSENG
TRIBUN JABAR/DEDY HEDRDIANA
TAN DENGSENG –

TERASA belum lengkap jika bicara Imlek 2561, yang jatuh pada 14 Februari 2010 tahun Masehi, di tatar Parahyangan ini tanpa merekam kegiatan sosok Tan Deseng. Lelaki kelahiran Bandung 67 tahun silam ini telah lama dikenal masyarakat Jawa Barat sebagai keturunan Tionghoa yang fasih dengan seni dan budaya Sunda.
 
Tan Deseng tinggal di bilangan Kompleks Situ Aksan. Rumahnya terlihat sederhana. Dinding bagian depannya masih berhiaskan tempelan beberapa angklung dan masih terpampang tulisan Padepokan Pasundan Asih. Di balik pagar besinya masih ditumbuhi pagar tanaman yang saat itu tengah dirapikan olehnya sendiri.

"Oh iya, silakan masuk," katanya saat Tribun memarkir kendaraan di depan rumahnya, Kamis (4/2).

Kesederhanaan juga terlihat dari pakaian yang dikenakannya. Tanpa basa-basi, setelah mempersilakan duduk di ruang tamu yang menyatu dengan ruang tengah dan banyak terdapat alat kesenian termasuk beberapa wayang golek, ia pun langsung menyalakan rokok kreteknya.

"Ada apa ini? Kalau dibikin profil di koran, saya kira sudah terlalu sering. Nanti saya jadi nggak enak, dan masyarakat juga pasti akan bosan," ujarnya membuka pembicaraan.

Namun, begitu ditanya soal alasannya menyukai seni Sunda, putra kelima dari tujuh bersaudara keluarga Tan itu langsung terenyak. Deseng, yang masih berperwakan kurus itu, tampak bersemangat. Rokoknya pun diisapnya dalam-dalam sebelum ia menjawabnya.

"Ini yang belum pernah diungkap oleh media. Kebanyakan yang ditanya bagaimana sampai bisa memainkan alat-alat seni Sunda," tutur Deseng, yang pertama kali mengenal alat seni Sunda berupa suling pada usia 4 tahun dari kakaknya yang mengerti banyak soal notasi nada.

Ayah dari Fitri Juliani dan Tantri Juliati ini, yang banyak menimba ilmu dari kalangan seniman Sunda kahot, mengungkapkan dasar kesukaannya terhadap kesenian Sunda karena Illahi telah menakdirkannya dilahirkan di tatar Sunda, negara Indonesia. Jadi, kata Deseng, secara alami ia sudah langsung bersentuhan dengan alam sekitarnya, adat istiadatnya, atau budaya dan umat di lingkungan tempatnya lahir.

"Maka jangan heran kalau saya suka seni Sunda. Karena saya berprinsip kejo di dieu nu ngajadikeun daging (nasi di sini yang menjadikan daging) saya, jeung nginum di dieu nu ngajadikeun getih (dan minuman di sini yang menjadikan darah) saya. Maka saya harus tahu dan memahami alam dan budayanya," kata Deseng, yang mendapat penghargan maestro dari Presiden SBY pada 2008.

Atas prinsip itulah, suami dari Wulan ini turut berperan banyak dalam pendirian Padepokan Pasundan Asih yang bertujuan untuk merangkul semua warga Tionghoa yang tinggal di Indnoesia, khususnya di Jawa Barat, dalam mencintai tanah tempat kelahirannya.

"Saya ingin mengajak etnis Tionghoa untuk memiliki rasa kebangsaan, menjadi bangsa dengan budaya bangsanya, Indonesia," ujarnya lantang.

Padepokan Pasundan Asih, yang dirintisnya bersama Ade Cahyadi dan Popong Otje Djundjunan, berhasil membawa seni Sunda ke berbagai negara. Mulai 1992 hingga 2003 ia dan anggota padepokannya, yang dominan etnis Tionghoa, banyak mendapat undangan berkesenian Sunda di Malaysia, Jepang, dan ke Cina.

Kini padepokan yang bermarkas di rumahnya itu masih tetap diramaikan dengan agenda latihan-latihan berkesenian, tapi waktunya tidak tentu. Setiap kali ada undangan pentas yang sekarang ini kebanyakan di dalam negeri, semua anggota padepokan pasti menyiapkan diri dengan berlatih.

"Kami bersyukur, sejak adanya padepokan ini, banyak warga etnis Tionghoa yang mengundang berpentas dalam setiap acara hajatan. Dalam sebulan bisa satu atau dua undangan pentas," katanya.

Menjelang datangnya tahun baru Imlek 2651, undangan pentas pun sudah mulai bermunculan. Selain undangan dari Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa), padepokan juga mendapat undangan pentas di Bumi Sangkuriang dan Grand Eastern dalam bulan Februari ini.

Namun Deseng masih terlihat kurang puas. Usut punya usut, ternyata ada karyanya yang sudah diselesaikannya belum lama ini, tapi belum ada kesempatan untuk dipentaskan. Karya barunya ini tak lain merupakan keinginannya yang sudah lama diidam-idamkan, yakni mengiringi seni barongsai dengan gamelan Sunda.

"Polanya sudah selesai saya buat. Tinggal menunggu kapan bisa dipentaskan. Tadinya sudah ada yang meminta untuk dipentaskan, tapi nggak jadi," tutur Deseng.

Deseng menegaskan, dalam waktu dekat ini pasti akan segera dipentaskan. Hanya saja ia belum mau menjelaskan waktu pastinya pementasan itu. Menurutnya, seni barongsai itu akan lebih kaya dalam irama musiknya sehingga akan memperkaya nilai seni barongsai yang ada di tatar Sunda.

Sebagai seniman Sunda Tionghoa, Deseng pun tetap menghormati tahun baru Imlek yang akan dirayakan oleh semua etnis Tionghoa. Angpau untuk anak-anak atau saudara muda yang berkunjung ke rumahnya pasti akan disiapkannya. Ia pun tentu akan mengunjungi saudara-saudara tuanya. Baginya, suasana Imlek di Indonesia seperti suasana Lebaran, orang saling berkunjung dan saling berbagi. (Dedy Herdiana)

Editor :
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

mbaca profil akng ini"saluttttt akan seni tradisoanal yg diangkat>>>>...kalborasi antar suku adat yg berbeda hasilnya lain memberikan seni makin indah dan kaya>>>lanjutt pa Tan Deseng....slalu mberikan seni yg berbeda....< slm kenal Hendra Indyraihan >....lajeungkeun

Komentar Oleh: Hendra indyraihan | Selasa, 23 Maret 2010 | 13:26 WIB

saya sgt tertarik dengan liputan padepokan pasunda asih kalau boleh tau alamat lengkap pade[pokan ini dimana???

Komentar Oleh: mega | Senin, 1 Maret 2010 | 12:47 WIB

Respek, begitu seharusnya prinsip yang dipegang, "dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung". Semestinyalah kita ini dimanapun dan kemanapun pergi berusaha untuk berintegrasi dengan masyarakat setempat sambil mengenalkan juga budaya kita. Dengan adanya pengintegrasian dari pendatang kepada penduduk setempat (bukan sebaliknya)akan menumbuhkan rasa solidaritas dan toleransi antara satu dengan yang lainnya. Mudah-mudahan bapak Deseng berhasil merangkuh keturunan lainnya di Indonesia.

Komentar Oleh: Mimi | Selasa, 9 Februari 2010 | 03:56 WIB

Akses http://m.tribunjabar.co.id dan dapatkan berita terbaru langsung di ponsel anda.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
MEMBAHAYAKAN
Galeri Foto
MEMBAHAYAKAN
more on galeri foto
Kamis, 2 September 2010 | 19:21 WIB
Kamis, 2 September 2010 | 19:14 WIB
Kamis, 2 September 2010 | 18:21 WIB
Kamis, 2 September 2010 | 18:19 WIB
Kamis, 2 September 2010 | 18:17 WIB