RIA TRISWANTO
Perintis Lembur Batik Cimahi
MELALUI pendekatan yang tepat, rasa senang perlahan bisa meningkat menjadi rasa cinta yang begitu mendalam. Pengalaman batin itu rata-rata pernah dialami para penggemar batik setelah mereka berkunjung ke tempat-tempat workshop batik di Bandung Raya.
Tempat-tempat workshop batik umumnya sengaja dibangun para pelestari batik, tidak semata pajangan buat menarik perhatian pengunjung. Lebih dari itu, para pemiliknya membangun fasilitas workshop sebagai wahana edukasi.
Yenny (28) seorang penggemar batik khas Cirebonan mengaku awalnya sekadar ikut tren pakai baju batik. Wanita bermata bulat ini mulai senang diajak memilih batik untuk dipakai ke kantor setiap Jumat.
"Setelah wisata batik ke tempat workshop baru aku sadar, kenapa kita ngotot mendesak PBB mengesahkan batik sebagai kekayaan budaya Indonesia. Ya, ternyata, memang bikinnya aja tidak mudah. Butuh kerja keras selama ratusan tahun buat menjaga batik tetap ada sampai sekarang," ujar Yenny serius.
Pengunjung workshop batik tidak sekadar diberi penjelasan tentang motif batik klasik dan kontemporer, batik tulis dan cap, asal daerah, alat-alat pembuat batik, jenis kain yang dipakai, serta kaitan motif batik dengan status sosial pemakainya. Merekapun bisa menyaksikan langsung tahap-tahap membuat batik, bahkan dibolehkan mencoba melukis dan mewarnai batik.
Rumah Batik Komar yang didirikan Komarudin Kudiya sekitar 12 tahun lalu di kawasan Cigadung Kota Bandung, telah mengenalkan wisata batik kepada masyarakat sejak awal 2009.
"Pengunjung diajak menyaksikan proses pembuatan batik. Merekapun kami ajarkan cara memakai alat-alat membatik dan mempraktikkannya," jelas Ade Rustandi, Supervisor Rumah Batik Komar.
Namun sebelum praktik membatik, pengunjung biasanya dibekali dulu pengetahuan tentang batik. Kemudian dipandu ke beberapa tempat seperti tempat membuat cetakan motif batik, melihat tata cara mencap batik di atas kain, melihat pekerja melukis batik menggunakan canting berisi malam cair.
Perjalanan dilanjutkan ke tempat pencucian, pewarnaan, dan pengeringan kain batik. Terakhir barulah pengunjung diajak menuju gerai koleksi batik khas berbagai daerah di Jabar. Selain ditampilkan dalam bentuk kain batik ada pula kain batik yang sudah dijahit sebagai pakaian jadi untuk pria maupun wanita.
Aktivitas hampir serupa juga dilakukan para pengunjung Lembur Batik Cimahi, di Jalan Pasantren, Kota Cimahi. Pusat wisata batik Cimahi ini memang baru dirintis Oktober 2009 oleh Ny Hijriyah Kurniyawati STeks dan suaminya, Triswanto STeks. Namun produksi batik Cimahi sudah dilakukan mereka sejak 2008 dan dipasarkan di gerai Batik Cimahi P-12, Perumahan Bumi Prima blok P-12.
Lembur Batik didirikan berdasar pada konsep sebuah kampung batik di Jabar. Lengkap dengan berbagai aktivitas seluruh elemen masyarakat di dalamnya. Sehingga siapapun yang datang, mulai anak-anak TK, ibu rumah tangga, peneliti, bisa mendapat wawasan komprehensif tentang batik.
"Bedanya, di Lembur Batik kita sekaligus mengajak pengunjung berkreasi memanfaatkan kain bekas batik untuk dibuat kriya. Misalnya kalung, gelang, ikat pinggang, sandal, sarung bantal, topi, dan keramik motif batik," jelas Ria Triswanto - panggilan Hijriyah.
Mereka akan dibimbing pemandu yang sehari-hari memang bergelut di bidang disain produk. Tujuannya tak lain untuk memberi inspirasi kepada pengunjung yang nantinya ingin berwirausaha. (rry)