KAMIS (25/2) sekitar pukul 01.00, lokasi longsor yang menimbun puluhan orang sunyi senyap, sekaligus gelap. Udaranya pun dingin. Hanya ada penerangan bulan dan bintang. Beberapa personel tim evakuasi dibantu warga sekitar sesekali mengontrol keamanan di sekitarnya, dengan menenteng senter dan mengenakan sepatu bot.
Di tengah tempat para relawan beristirahat, hanya ada dua lampu yang menyala, yang dibantu satu mesin disel yang menderu setiap malam. Untuk menghangatkan badan, ada sebuah api unggun di tengah-tengah posko yang letaknya paling dekat dengan lokasi kejadian. Namun, sebagian besar relawan lebih memilih memanfaatkan waktu malam hari untuk beristirahat.
Dalam jarak satu kilometer dari lokasi kejadian, terlihat berderet mobil dari berbagai kalangan, yang diparkirkan di tepi jalan. Dari mobil Tagana hingga PMI, dan juga dari kalangan wartawan dan personel TNI.
Buruknya jalan menuju Perkebunan Teh Dewata menjadi satu kendala terbesar dalam mendistribusikan bantuan. Jalannya berkelok dan penuh bebatuan. Beberapa di antaranya lumpur dan sulit dilewati. Di beberapa jalur, hanya bisa dilalui satu mobil. Di sebelah kanannya berupa tebing tanah, sedangkan sisi yang satu adalah jurang atau hutan. Komunikasi menggunakan telepon seluler pun terputus.
Namun, kondisi ini tidak menyurutkan ratusan anggota tim evakuasi dari berbagai organisasi untuk mencari korban timbunan longsor. Sekitar pukul 07.00, puluhan personel polisi, TNI, dan PMI sudah menuju lokasi untuk mencari korban. Pencarian korban juga menggunakan backhoe. Tidak hanya itu, empat anjing pelacak dari
Raungan tiga helikopter, yang berasal dari SAR, dan dua di antaranya berasal dari PMI Jakarta, menambah suasana menjadi ramai, sekaligus mencekam. Selain membantu mengevakuasi korban yang terluka, tiga helikopter itu juga berfungsi mengirimkan bantuan logistik dan obat yang dibutuhkan.
Yudha Firmansyah, relawan dari Dompet ,Duafa mengatakan, bantuan hingga hari ketiga terus mengalir. "Alhamdulillah, kalau masalah bantuan tidak ada kendala. Bantuan terus bertambah," ujarnya.
Bantuan tenaga pun juga datang dari satu kompi personel Paskhas Lanud Sulaeman. Menurut Prada Eka Wahyu, ia baru sekali ini melakukan evakuasi korban bencana alam. "Menyenangkan, bisa saling membantu. Niatnya