"INI Pak, silakan menikmati bacaan yang saya bawa ini. Tak perlu beli. Baca buku-buku saya ini, gratis kok," ucap ibu Kiswanti sebelum ia meramu jamu pesanan sambil menyodorkan beberapa buku kepada pembeli jamunya.
Sungguh sebuah pengalaman yang berharga, profesinya sebagai penjual jamu, tak menghalangi semangatnya. Ibu Kiswanti adalah salah satu pengelola taman bacaan masyarakat yang tak ragu terjun tanpa pamrih menggempur buta aksara dan membangun minat baca di daerahnya.
Ikhtiar yang dilakukan ibu Kiswanti, seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun, di Kampung Saja Lebakwangi, Kecamatan Pemagarsari, Parung-Bogor, Jawa Barat menunjukkan profesinya sebagai tukang jamu, tak pernah mengalahkan kekuatan hatinya untuk menularkan minat baca yang dimiliki dirinya kepada orang-orang lain yang ada di sekitarnya.
"Tak sedikit tetangga-tetangga yang belum melek aksara bisa banyak terbantu oleh Taman Bacaan dari kami," ungkap ibu Kiswanti dalam TOT TBM awal 2008.
Istimewanya, ibu Kiswanti yang lulusan sekolah dasar ini telah punya Taman Bacaan sejak tahun 1994. Taman Bacaannya dikenal dengan nama "Waralaba" (Warung Baca Lebakwangi). Kini koleksi bukunya telah lebih dari 2.000 eksemplar dan melampaui 700 judul buku. Buku-buku ini diperolehnya dari buku-buku bekas koleksi pribadi dan sumbangan-sumbangan para donator pribadi yang peduli pada taman bacaannya.
Memang membangun minat baca di negara ini masih perlu kerja keras. Pasalnya, Indonesia masih punya target pemberantasan buta aksara yang cukup tinggi. Tahun 2000 lalu, angka buta aksara masih 15,4 juta orang. Kini, masih ada 12,7 juta warga usia 15 tahun ke atas yang belum melek huruf. Pemerintah menargetkan pada tahun 2009 nanti angka buta huruf ini akan berkurang hingga sekitar 7,7 juta orang (www.depdiknas.go.id). Jumlah target ini tidak sedikit. Oleh karenanya, tidah hanya dari pihak pemerintah yang harus giat menggempurnya. Tetapi juga dari lini yang paling bawah, yakni masyarakat. Harapannya adalah keterlibatan masyarakat secara langsung yaitu membangun minat baca masyarakat melalui kegiatan riil.
Pengalaman ibu Kiswanti merupakan yang berharga sekaligus memberikan makna dan warna tersendiri tentang pentingnya membaca buku. Memang, buku merupakan benda mati, tapi ia memiliki kekuatan dan menjadi sarana bagi manusia untuk belajar. Berbagai macam ilmu telah direkam dalam buku. Bermacam peristiwa yang terjadi di sekitar manusia telah "terpahat" dalam buku. Ia seperti jendela, bukan pintu, atap, atau kunci dunia, ia adalah tempat posisi seseorang memandang, melihat sesuatu di luar dirinya. Karena itu, buku adalah partikel persepsi untuk melihat paradigma dunia.
Orang yang membaca buku, berarti dia telah berniat untuk menambah wawasan dan memperkaya perspektif. Dengan membaca buku pula, orang akan mengenal beberapa wilayah-wilayah baru yang belum pernah diketahuinya. Buku memberikan jalan bagi manusia untuk beraktifitas secara kreatif. Orang-orang bisa menulis gagasannya dalam sebuah buku bisa jadi karena terinspirasi dari gagasan orang lain yang dituangkan dalam sebuah buku juga. Membaca dan menulis buku merupakan tradisi ilmiah yang (seharusnya) perlu untuk terus dilestarikan. Tradisi ilmiah ini merupakan salah satu faktor yang mendukung terjadinya kemajuan.
Namun, kemanfaatan buku yang luar bisa tersebut tidak berbanding lurus dengan kenyataannya. Minat baca masyarakat boleh dibilang sangat memprihatinkan. Budaya baca apalagi budaya menulis pun disinyalir kini absen di kalangan sekolah dan kampus. Bagaimana di kalangan masyarakat desa?
Pada komunitas yang satu ini ada dua masalah; pertama, langkanya buku yang dapat mereka akses dengan mudah dan murah. Kedua, budaya baca rendah, dan hal ini terkait dengan faktor pertama. Oleh karenanya, dalam rangka merefleksikan momentum Mei (Hardiknas 2 Mei, Harbuknas 17 Mei, dan Harkitnas 20 Mei), kita tergugah membangun kesadaran untuk berbagi dengan saudara-saudara kita nun jauh di desa sana untuk bisa berkesempatan berinteraksi secara luas dengan buku.
Di antaranya melalui program Perpustakaan Desa (sebagaimana disaratkan dalam UU otonomi Daerah revisi 2003), Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Taman Bacaan Anak (TBA), ataupun memberdayakan perpustakaan keliling, yang diharapkan tidak hanya berkekeliling di wilayah perkotaan saja tetapi juga masuk ke pelosok desa.
Apapun kondisinya, melalui refleksi momentum berharga tersebut, kita ingin buku menjadi salah satu perangkat untuk mencerdaskan bangsa, tanpa terkecuali termasuk masyarakat pedesaan. Meminjam motto IKAPI, "Gemar Membaca, Bangsa Maju dan Unggul". Artinya, bangsa yang maju harus mempunyai fondasi kokoh, yakni budaya membaca yang kuat. (*)
sangat setuju dengan program ini, saya sendiri sedang inisiasi lahirnya puastaka kampung, di di kampung saya ; MENTANG DESA LAROMPONG KECAMATAN LAROMPONG KAB. LUWU SULAWESI SELATAN
Dulu pernah ada Perpustakaan Desa, tapi sayang tutup lagi. Upaya ini sebenarnya terlalu mengandalkan kepada para praktisi pendidikan, kurang didukung oleh aparat pemerintahan dari semua level. Padahal di kantor kecamatan dan di pemerintahan desa ada kaur yang terkait dengan garapan ini.