MASIH ingatkah kita dengan pelajaran mengarang? Jika menoleh ke belakang, tentu kita dapat mengetahui bahwa dunia tulismenulis khususnya mengarang, sudah mulai menghilang dimakan perkembangan zaman. Padahal mengarang merupakan sesuatu kegiatan yang cukup mudah untuk dipelajari dan mempunyai manfaat yang lebih.
Sekolah Dasar (SD) merupakan tempat dimana mendidik dan menciptakan mental anak yang masih labil. Kini hampir seluruh SD di Indonesia, mungkin! sudah hampir meniadakan pelajaran mengarang. Hanya sebagian kecil yang masih ada, itu juga sampai kelas empat saja, selanjutnya tidak ada lagi. Pelajaran mengarang pun menuju kepunahan.
Faktor tersebut berdampak kepada perguruan tinggi, hampir seluruh mahasiswa dalam setiap mengerjakan tugas atau dalam penyusunan skripsi tidak menulis dengan tangannya sendiri. Mereka menggunakan lewat internet yang tinggal copy paste atau menggunakan jasa pengetikan. Itu merupakan kebiasaan lama akibat dari awalnya tidak dirangsang untuk giat menulis.
Banyak orang yang berkata, tidak bisa menulis, menulis itu membosankan, menulis itu sulit, sulit untuk mendapatkan ide untuk menulis, tidak punya waktu untuk menulis, pokoknya saya benci menulis. Hanya orangorang yang berpikir negatif yang mampu mengeluarkan perkataan itu. Banyak orang yang sepertinya "alergi" dengan kegiatan tulis menulis ini. Mereka merasa demikian karena belum mengenal dan mengalami langsung kedahsyatan dari manfaat menulis. Manfaat yang diterima penulis ternyata tidak berhenti ketika ia selesai menjalani proses penulisan. Hasil tulisan juga memberikan berbagai manfaat positif yang dapat dinikmati lama setelah tulisan tersebut selesai dikerjakan.
Banyak hal yang bisa dilakukan dalam tulismenulis,dengan menulis kita dapat memberikan informasi, berbagi pengalaman, membebaskan dari penderitaan lahir maupun batin, mempropagandakan pemikiran, bahkan sampai menjatuhkan orang dari kursi kepemimpinan (pembunuhan karakter). Terkadang banyak hal yang tidak bisa disampaikan dengan suara. Tapi dalam dunia tulismenulis semuanya bisa. Tulisan adalah salah satu kekuatan kita.
Untuk hidup abadi, seseorang tidak perlu obatobatan ataupun kekuatan magis, yang diperlukan adalah kekuatan tulisan yang dapat mengabadikan karya dan pemikiran dari penulis. HC Andersen, dengan dongeng klasik yang ditulisnya, tetap hidup sampai sekarang. Tulisan Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, dan Mohammad Hatta sampai sekarang pun tetap abadi. Hasil tulisan mereka berupa roman klasik, kumpulan puisi, dan bukubuku pemikiran ekonomi masih dibaca dan menjadi rujukan banyak tokoh bangsa hingga kini.
Sebenarnya tidak ada jurus ampuh dalam melatih seseorang untuk dapat menulis dengan baik selain mempraktikannya langsung. Cukup dimulai dari tulisan yang ringan seperti halnya diary (catatan harian) atau coretancoretan yang mempunyai makna. Karena dengan biasa menulis sudah pasti akan terbiasa pula dengan membaca. Karena dengan banyak membaca, dapat menciptakan tulisan yang dahsyat.
Jadi, pelajaran mengarang adalah salah satu modal untuk meraih suatu prestasi. Masih perlukah pelajaran mengarang? jawabannya masih! Seharusnya pelajaran mengarang masih diadakan minimal di tingkat SMP. Karena usia sekolah menengah pertama itu seorang anak memasuki masa anak baru gede (ABG). Di masa ABG lah mereka mulai mencari jati dirinya. Pencarian jati diri secara positif dapat disalurkan dengan menuangkan ide, cita-cita, dan impian dalam bentuk tulisan. Ide, impian, atau cita-cita yang dituliskan akan membuat seseorang lebih fokus untuk mencapainya. Tidak sedikit Ide, impian, atau cita-cita yang ditulis tersebut justru terwujud di masa mendatang.
Mungkin ada baiknya kita meniru kebiasaan para penulis sukses yang selalu bawa catatan dan alat tulis kemana pun pergi. Paling tidak kita bisa mencatat ideide yang muncul agar tidak hilang begitu saja seiring perjalanan waktu. Kini hanya Anda yang dapat menentukan, mau memulai menulis ataupun tidak. Terserah Anda. (*)
Moh Riza Pahlevi - Mahasiswa Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
"Kini hampir seluruh SD di Indonesia, mungkin! sudah hampir meniadakan pelajaran mengarang. Hanya sebagian kecil yang masih ada, itu juga sampai kelas empat saja, selanjutnya tidak ada lagi. Pelajaran mengarang pun menuju kepunahan." saya tidak bilang tidak ada bapak..............
Artikel yg bagus mengenai pentingnya mengarang di SD. Tapi Sdr. Riza sebagai penulis kurang atau mingkin tdk mendalami dulu isi kurikulum Bahasa Indonesia SD. Materi mengarang/menulis tetap masih ada. Sdr Riza yang berlatar belakang jurnalistik, agaknya kurang memahami realitas proses pembelajaran di SD sekarang. Khusus masalah pelajaran mengarang, pada dasarnya kelemahan dan kelebihan terletak pada kemampuan guru itu sendiri. Asep P. Kurnia. Guru SDN Rancagede Kec. Ciwidey Kab. Bandung. Mahasiswa Prodi PGSD - FKIP Unpas Bandung. Email : asep.pk@gmail.com asepp.kurnia@yahoo.com
lo cakep n' smart people..!!!!!!!!!!! GBU