Munarman Diperiksa 11 Jam Terkait Kasus Ninoy Karundeng, Bantah Suruh TSK Hapus Rekaman CCTV Masjid
Rabu, 9 Oktober 2019 23:37
Editor: Dedy Herdiana
Munarman Diperiksa 11 Jam Terkait Kasus Ninoy Karundeng, Bantah Suruh TSK Hapus Rekaman CCTV Masjid
Sekretaris Umum (Sekum) Front Pembela Islam (FPI), Munarman di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (9/10/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Sekretaris Umum (Sekum) Front Pembela Islam ( FPI), Munarman selesai diperiksa sebagai saksi terkait kasus penculikan dan penganiayaan Ninoy Karundeng pada Rabu (9/10/2019) pukul 22.30 WIB.

Dia berada di ruangan penyidik untuk diperiksa sebagai saksi selama 11 jam sejak pukul 11.20 WIB.

Munarman mengatakan, dia dicecar 20 pertanyaan oleh penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya terkait peristiwa penganiayaan terhadap Ninoy dan rekaman CCTV Masjid Al-Falah, Pejompongan, Jakarta Pusat.

"Intinya tentang apakah saya mengetahui peristiwa (penganiayaan) di Masjid Al-Falah, saya bilang saya tidak tahu peristiwa itu (penganiayaan terhadap Ninoy)," kata Munarman di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.

Munarman juga mengakui memberikan konsultasi hukum terkait rekaman CCTV masjid terhadap salah satu tersangka penganiayaan Ninoy yakni S alias Supriyadi yang merupakan pengurus Masjid Al-Falah.

Konsultasi hukum itu dilakukan melalui pesan singkap WhatsApp pada 2 Oktober 2019. Namun, Munarman mengaku belum pernah melihat rekaman CCTV tersebut.

"Soal rekaman CCTV di masjid, kan ada berbagai macam rekaman tuh. Saya minta CCTV itu untuk saya lihat selaku orang hukum sehingga saya bisa menilai dan memperkirakan langkah-langkah hukum apa yang perlu saya berikan kepada pengurus masjid," ujar Munarman.

"Saya sendiri belum lihat (isi rekaman CCTV), saya belum dapat sama sekali (rekaman CCTV)," lanjutnya.

Bantah Suruh Tersangka Hapus Rekaman CCTV Masjid

Sekretaris Umum (Sekum) Front Pembela Islam (FPI) Munarman membantah telah memerintahkan Supriyadi, salah satu tersangka (TSK) penganiayaan Ninoy Karundeng, untuk menghapus rekaman CCTV Masjid Al-Falah, Pejompongan, Jakarta Pusat saat Ninoy dianiaya pada 30 September lalu.

Berdasarkan keterangan polisi, Ninoy Karundeng dianiaya di area masjid itu.

Bantahan tersebut disampaikan pengacara Munarman, Aziz Yanuar, di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (9/10/2019).

Menurut Aziz, Munarman yang dulunya merupakan jurubicara FPI, hanya ingin mengetahui fakta yang terjadi terhadap Ninoy Karundeng di Masjid Al-Falah.

Saat ini, rekaman CCTV tersebut telah diamankan sebagai barang bukti oleh kepolisian.

"Bukan, bukan (meminta untuk menghapus rekaman CCTV), justru (Munarman) mau tahu faktanya (apa yang terjadi di Masjid Al-Falah) yang akan digunakan (sebagai barang bukti) oleh pihak Kepolisian," kata Aziz kepada wartawan.

Munarman dan Supriyadi berkomunikasi melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp untuk meminta konsultasi hukum apabila ada anggota kepolisian yang meminta rekaman CCTV masjid.

"Pihak S (Supriyadi) itu menanyakan apabila ada pihak-pihak yang mengaku (dari) Polda (Metro Jaya) bagaimana, lalu Bapak Munarman selaku penasehat hukum dan advokat juga memberikan saran konsultasi hukum," ungkap Aziz.

Munarman pun meminta Supriyadi untuk mengamankan rekaman CCTV itu terlebih dahulu.

"Lalu poin kedua terkait bahwa di dalam masjid itu ada (rekaman) CCTV. Nah, itu tolong diamankan kalau nanti ada hal-hal yang mungkin diperlukan," kata Aziz.

Kronologi

Adapun Ninoy diketahui menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang tak dikenal di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat pada 30 September lalu. Dia dianiaya lantaran merekam aksi unjuk rasa dan demonstran yang sedang mendapatkan pertolongan karena terkena gas air mata di kawasan tersebut. Mereka juga mengambil hingga menyalin data yang tersimpan dalam ponsel dan laptop Ninoy. Baca juga: Diperiksa Sejak Siang, Munarman Dicecar Terkait Chat dengan Tersangka Pengeroyokan Ninoy Tak sampai di situ, Ninoy juga sempat diinterogasi dan diancam dibunuh hingga mayatnya akan dibuang di tengah kerumunan massa aksi unjuk rasa. Penganiayaan itu berakhir setelah mereka memesan jasa GoBox untuk memulangkan Ninoy beserta sepeda motor yang telah dirusak pada Selasa (1/10/2019). Polisi telah menetapkan 13 tersangka terkait penganiayaan dan penculikan Ninoy. Salah satu tersangka adalah Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA) 212, Bernard Abdul Jabbar. Sebanyak 12 tersangka telah ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya. Sementara itu, satu tersangka lainnya yakni tersangka TR ditangguhkan penahanannya dengan alasan kondisi kesehatan

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Diperiksa 11 Jam, Munarman Mengaku Tak Tahu Kejadian Penganiayaan Ninoy Karundeng", https://megapolitan.kompas.com/read/2019/10/09/23071771/diperiksa-11-jam-munarman-mengaku-tak-tahu-kejadian-penganiayaan-ninoy.
Penulis : Rindi Nuris Velarosdela
Editor : Jessi Carina