Pengakuan Korban Kerusuhan di Wamena yang Pulang ke Jawa Barat: Takut Dengar Suara Kendaraan
Rabu, 9 Oktober 2019 22:21
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Pengakuan Korban Kerusuhan di Wamena yang Pulang ke Jawa Barat: Takut Dengar Suara Kendaraan
Sebanyak 71 warga asal Jawa Barat yang jadi korban kerusuhan di Wamena disambut Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Gedung Pakuan, Bandung, Rabu (9/10/2019). Sementara, mereka diungsikan ke daerahnya masing-masing. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Suasana haru menyelimuti momen 71 korban kerusuhan di Wamena bertemu keluarga mereka di Gedung Pakuan, Jalan Cicendo, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Rabu (9/10/2010).

Sebanyak 71 korban kerusuhan di Wamena berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. Tadi, mereka dijemput keluarga masing-masing.

Di Gedung Pakuan, mereka tak henti-hentinya melepas kerinduan, terus berpelukan dengan anggota keluarga mereka.

Berdasarkan pengamatan Tribun Jabar, rombongan warga Jabar yang dievakuasi dari Wamena Papua tiba di Gedung Pakuan pukul 19.30 WIB atau lebih cepat 30 menit dari jadwal.

Mereka datang memakai dua bus. Turun dari bus, petugas langsung mengarahkan mereka ke meja hidangan untuk menyantap makanan yang sudah disediakan.

Beberapa dari korban kerusuhan di Wamena itu, terutama anak-anak, tampak lelah.

Ada juga yang mengaku masih merasakan trauma. Muhammad Zidan Ardiansyah (20) yang berasal dari Baros Kota Sukabumi, misalnya.

Ia baru delapan bulan di Wamena, mengikuti adiknya yang lebih dulu ke sana. Zidan bekerja sebagai sopir taksi.

Menurutnya, sebelum kerusuhan terjadi pada 23 September 2019, kondisi di Wamena relatif aman.

Selama kerusuhan terjadi, Zidan mengaku hampir sepanjang hari mendengar suara tembakan dari berbagai arah. Kepulan asap ada di mana-mana akibat bangunan, barang, dan kendaraan yang terbakar.

"Sebetulnya tujuan saya bersama istri ke Wamena itu untuk mencari pengalaman dan perubahan nasib. Saat kerusuhan terjadi, saya baru selesai mandi dan hendak mengantre bensin di salah satu SPBU di sana," katanya.

"Saya melihat semua orang lari. Karena takut saya lalu bersembunyi setiap kali melihat rombongan yang ke sana ke sini mencari bangunan atau barang-barang yang akan dibakar," ujarnya

Sebelum dievakuasi, Zidan dan istri selalu ketakutan tiap kali mendengar suara kendaraan yang melintas di dekat tempat tinggal mereka.

Mereka baru bisa bernapas lega setelah tim gabungan petugas keamanan menjemput menuju tempat pengungsian.