Kasus Janda Cantik Bobol Dana Nasabah Hingga Rp 124 Miliar, Dikrimum Polda Maluku Dipanggil ke Mabes
Senin, 21 Oktober 2019 21:30
Editor: Ravianto
Kasus Janda Cantik Bobol Dana Nasabah Hingga Rp 124 Miliar, Dikrimum Polda Maluku Dipanggil ke Mabes
Faradiba Yusuf, tersangka pembobol dana nasabah hingga Rp 124 Miliar. 

TRIBUNJABAR.ID - Dua perwira di jajaran Polda Maluku diberhentikan sementara dan diperiksa Mabes Polri.

Seperti diketahui, Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Maluku, Kombes AW yang diberhentikan sementara terkait penanganan kasus dugaan pembobolan dana nasabah BNI Cabang Ambon kini tengah menjalani pemeriksaan di Mabes Polri.

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Muhamad Roem Ohoirat saat dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya membenarkan jika Kombes AW saat ini sedang berada di Mabes Polri untuk menjalani pemeriksaan.

Menurut Roem, selain Kombes AW, salah satu perwira polisi berpangkat Kompol yang merupakan anak buah AW juga ikut diperiksa di Mabes Polri.

Roem menegaskan, pemberhentian sementara Kombes AW tersebut tidak ada kaitan secara langsung dengan skandal kasus pembobolan BNI, namun hanya terkait penanganan kasus yang diduga menyalahi prosedur.

“Saya pastikan 100 persen bahwa tidak ada keterkaitan mereka dengan kasus ini tidak ada, cuma begitu laporan masuk ada kesalahan awal penanganannya, jadi belum tentu mereka salah,” tegasnya.

Meski begitu, Roem menyebut, jika dari hasil pemeriksaan nanti ada bukti Kombes AW menyalahi aturan, maka tentu akan diberikan sanksi dari pimpinan, namun jika tidak terbukti maka jabatan sebagai Dirkrimum Polda Maluku akan dikembalikan seperti semula.

“Kalau ada kesalahan dari hasil pemeriksaan itu sudah tentu ada hukumannya, tapi kalau mereka tidak salah berarti dikembalikan jabatannya. Ya begitu kalau anak buah lakukan kesalahan pasti tanggung jawabnya pimpinan,” ujarnya.

Sebelum diambil alih oleh Ditreskrimsus Polda Maluku, kasus tersebut terlebih dahulu ditangani oleh Ditrkimum Polda Maluku.

Sesuai peraturan Kapolri, kasus tersebut harusnya ditangani oleh Dirkrimsus karena menyangkut kejahatan perbankan.

“Jadi kesalahannya hanya di situ, bukan terkait keterlibatan dalam kasus pembobolan dana nasabah itu,” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kasus dugaan pembobolan dana nasabah BNI Cabang Ambon dilaporkan ke SPKT Polda Maluku apda 8 Oktober 2019 lalu.

Kasus tersebut dilaporkan pihak BNI setelah dalam hasil investigasi internal ditemukan adanya investasi tidak wajar yang dilakukan FY.

Pihak BNI pun menyebut jika FY terlibat dalam sindikat investasi tidak wajar.

Saat ini FY telah resmi ditetapkan sebagai tersangka dan telah ditahan di sel tahanan Polda Maluku.

FY ditangkap di sebuah rumah di Citraland di kawasan Lateri Ambon Jumat pekan lalu. (Rahmat Rahman Patty)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kombes AW, Diduga Lakukan Kesalahan Prosedur, Diperiksa di Mabes Polri"

Modus licik FY

Kepala Pemasaran Kantor Cabang Utama (KCU) BNI Ambon, Faradiba Yusuf (FY), kini menjadi orang yang paling dicari nasabah BNI.

Setelah dia dilaporkan pihak KCU BNI Ambon karena membobol uang nasabah senilai Rp 124 Miliar, kini wanita cantik ini dikejar polisi.

Lantas siapakah faradiba Yusuf? Namanya rupanya sangat dikenal di masyarakat Ambon pada umumnya.

Sejumlah orang yang mengenal FY, termasuk warga sekitar kediaman FY, membeberkan kekayaan dan gaya hidup karyawati tersebut.

Dikutip dari Kompas.com, kekayaan FY melonjak tajam setelah diangkat menjadi Kepala Pemasaran BNI Cabang Ambon.

Salah satunya adalah sejumlah mobil mewah dan restoran yang diduga milik FY.

Setelah dilaporkan pihak bank ke Polda Maluku terkait kasus dugaan pembobolan dana nasabah senilai ratusan miliar rupiah, kekayaan FY pun terungkap.

“Kalau mobil mewah itu ada enam, ada juga restoran, usaha rumah kopi dan juga bengkel. Dia (FY) juga punya tiga toko di MCM, kalau tanah ada banyak,” ungkap seorang sahabat FY yang enggan disebut namanya, Kamis (17/10/2019).

Selain itu, FY diduga juga memiliki lebih dari 10 rumah yang tersebar di berbagai kawasan di Ambon seperti di BTN Manusela, Kebun Cengkeh, hingga di kawasan elite Citraland di Lateri Ambon.

Tak hanya itu, FY juga diduga memiliki sebuah restoran, salon kecantikan, rumah kopi, hingga tiga tempat usaha di pusat pertokoan Maluku City Mall (MCM) Ambon.

Masih menurut salah satu sahabat FY, setelah menduduki jabatan penting di BNI Cabang Ambon, FY juga kerap berlibur ke luar negeri bersama teman-teman dan juga keluarganya.

Selain itu, FY juga kerap memberikan hadiah mobil kepada teman-temannya yang berulang tahun.

Sementara salah satu tetangga FY mengaku jika kehidupan pejabat BNI Ambon itu mulai berubah setelah ia dipercaya sebagai kepala pemasaran BNI Cabang Ambon sejak beberapa tahun lalu.

“Kehidupannya seperti sosialita sangat glamor. Dia itu pakai barang yang mahal, kita juga tidak tahu kekayaan itu didapat dari mana,” ujar H, tetangganya.

Terpisah, Kepala Otoritas Jasa Keungan (OJK) Maluku, Bambang Hermanto meminta warga, khususnya para nasabah BNI, agar tetap tenang.

“Masyarakat agar tenang tidak perlu melakukan penarikan karena selama tercatat dalam buku tabungan dan pembukuan bank tetap aman. Untuk itu, masyarakat agar membudayakan mem-print buku tabungan secara berkala untuk dapat mengetahui posisi saldo tabungan,” imbau Bambang via telepon seluler.

Dia juga mengimbau kepada para nasabah BNI agar tetap melakukan transaksi di teller kantor maupun delivery channel yang disediakan oleh bank dengan tetap memperhatikan keamanan.

Terkait kasus pembobolan, Bambang mengaku BNI merupakan bank yang diawasi langsung oleh pengawas dan OJK.

Menurutya, pihak BNI juga menyampaikan bahwa pengawasan terhadap bank dilakukan berdasarkan laporan berkala (offsite) dan pemeriksaan langsung (onsite) sesuai undang-undang.

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Muhamad Roem Ohoirat saat memberikan keteranagn kepada wartawan terkait kasus pembobolan dana nasabah BNI Cabang Ambon di runag kerjanya, Kamis (17/10/2019)
Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Muhamad Roem Ohoirat saat memberikan keteranagn kepada wartawan terkait kasus pembobolan dana nasabah BNI Cabang Ambon di runag kerjanya, Kamis (17/10/2019) (KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTY)

Pengawasan itu dilakukan minimal satu kali setahun.

“Dalam hal pemeriksaan jaringan kantor di daerah dilakukan sampling sesuai dengan hasil analisis risk bank oleh pengawas karena OJK menganut risk bank supervision atau pengawas berdasar risiko,” kata Bambang.

Cerai 6 Tahun Lalu

Seperti perempuan pada umum­nya, ia pun kerap membagikan kegiatan sehari-harinya di akun facebook miliknya.

Faradiba adalah orang tua tung­gal, pasca bercerai dengan suami­nya, sekitar 6 tahun lalu, Farah memilih membesarkan buah hati satu-satunya.

Pasca bintangnya mulai bersi­nar di BNI 46, Farah paling sering memanjakan diri dan keluarganya.

Untuk urusan berlibur, Farah dan buah hatinya selalu menggu­nakan layanan business class.

“Terka­dang bersama teman yang juga adalah kekasihnya,” ujar sumber tadi, tanpa merinci siapa kekasih­nya itu.

Dikutip dari siwalimanews.com Farah juga dikenal mengoleksi banyak mobil mewah berbagai merek, mulai dari Toyota Alphard, Toyota Fortuner, Pajero Sport, Honda CRV Prestige hingga Honda HRV.

“Semua selalu diguanakan bersama sang anak dan juga kekasihnya,” tambah sumber itu.

Sebelum mentereng seperti sekarang, Farah adalah pegawai biasa di Cabang Batu Merah, kemudian berpindah ke Cabang Waihaong.

“Tapi sejujurnya dia gesit dan pandai bergaul,” lanjut karib Farah itu.

4 unit rumah mewah di Citraland

3 unit rumah di pra­patan Kebun Cengkih

1 unit rumah di BTN Manusela

1 unit salon di Jalan Diponegoro

1 unit rumah kopi di kawasan pela­buhan

1 restoran Kampoeng Raja

1 rental tenda di Ponegoro

2 unit toko pakaian di MCM

1 bidang tanah di Laha

1 unit Toyota Alphard

1 unit Pajero Sport

1 unit Fortuner

1 unit Honda CRV Prestige

1unit Honda HRV

Ilustrasi
Ilustrasi (TRIBUNNEWS.COM)

Modus Faradiba

Seperti diberitakan, Faradiba Yu­suf melakukan aksinya sejak tahun 2017. Saat itu, Faradiba masih men­jabat Kepala Cabang Pembantu BNI AY Patty yang saat ini sudah ber­pindah ke Waihaong.

Dugaan kejahatan yang dilakukan Farida hingga ia menjabat pemimpin pemasaran BNI Ambon. Saat itu, Dione Liemon masih menjabat pe­mimpin BNI Ambon.

Sasarannya, nasabah yang ta­bungannya gede, bernilai miliaran rupiah.

Para nasabah tersebut ber­status prioritas atau istimewa di BNI.

Lalu bagaimana modus yang dilakukan Faradiba untuk meng­garap dana mereka?

Di mata para nasabah Faradiba sangat dipercaya. Mereka tak lagi berurusan di bank.

Semua diurusi oleh Faradiba, baik untuk menabung atau mencairkan dana mereka. Kepercayaan itu yang dimanfaatkan oleh Faradiba.

“Nasabah hanya tinggal di rumah, kalau mau nabung tinggal kontak Faradiba, dia yang datang. Uang dititip ke Faradiba, slip setoran ditan­datangani oleh nasabah, ini kan karena nasabah percaya,” kata sum­ber di BNI.

Para nasabah tetap percaya karena bukti print buku dan slip setoran dikembalikan oleh Faradiba kepada nasabah, dan tercatat jelas nilai uang yang disetor.

Faradiba memang menyetor uang nasabah ke bank. Tetapi saat hendak mau tutup kas, ia menarik kembali uang tersebut.

Itu berarti Faradiba memiliki password untuk bisa masuk ke rekening nasabah.

Otoritas pemegang password adalah Kepala Kantor Cabang Umum BNI Ambon.

Jika Faradiba bisa mendapatkan password maka ada keterlibatan kepala cabang dalam kasus ini.

“Ini kan jadi pertanyaan mengapa Faradiba bisa tahu password. Itu berarti ada dugaan keterlibatan orang lain,” ujar sumber tersebut.

Begitupun dengan tabungan lainnya seperti deposito. Faradiba juga dipercayakan oleh nasabah untuk mendepositokan uang mereka dan juga melakukan pencairan.

Ternyata uang mereka juga ditilep. “Jadi modusnya sama,” ujar sumber itu.

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Muhamad Roem Ohoirat mengatakan, kasus tersebut berawal dari adanya laporan pihak bank pada 8 Oktober 2019.

Setelah menerima laporan, kasus itu kemudian ditangani oleh Direktorat Kriminal Umum Polda Maluku.

Namun, lantaran kasus tersebut merupakan kasus perbankan maka diambil alih oleh Direktorat Kriminal Khusus.

“Jadi sesuai dengan laporan ada kerugian dari pihak BNI sekitar Rp 58 miliar, sesuai dengan laporan yang mereka laporkan,” kata Roem kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (17/10/2019).

Roem mengatakan, dari hasil investigasi internal yang dilakukan pihak bank, terungkap bahwa terlapor FY selama ini diduga telah cukup lama melancarkan aksi kejahatan.

Namun, baru pada 9 September hingga awal Oktober 2019 kejahatan yang dia lakukan terendus.

Roem membeberkan, dalam aksinya itu FY memerintahkan tiga kepala cabang yakni cabang pembantu Tual, Dobo dan Masohi untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening tertentu. Transfer sejumlah uang itu dinilai merugikan bank karena tidak sesuai prosedur.

Saat ini pihak pelapor dan para pimpinan cabang yang mentransfer uang atas perintah FY telah dimintai keterangan.

Adapun perintah mentransfer uang oleh FY itu dilakukan ke lima rekening yang umumnya merupakan nasabah BNI.

Roem mengaku pihaknya masih mendalami siapa lima pemilik rekening tersebut dan hubungan dengan FY.

“Ini yang masih dilakukan penyelidikan, nanti hasilnya baru saya umumkan. Lima orang ini adalah nasabah. Untuk perkembangan lanjutan kita tunggu hasil penyelidikan,” ujar dia.

Polisi sejauh ini sudah meminta keterangan empat orang internal bank. Polisi juga sudah menjadwalkan pemeriksaan terhadap FY.

Menurutnya, jika FY melarikan diri maka pihaknya akan memanggil paksa dan melakukan pengejaran.

Terkait kekayaan FY, polisi akan menelusurinya termasuk rekam jejak yang bersangkutan.

“Soal rekam jejak itu nanti ditelusuri semuanya,” katanya.

Dia juga menyebut kasus ini telah mendapat perhatian dari Kapolda Maluku, sehingga pihaknya berjanji akan menuntaskan kasus itu termasuk juga mengungkap modus dan aliran dana yang digunakan.

“Sudah pasti ini perintah dari Kapolda untuk kasus ini ditangani secara tuntas. Kita akan cari kalau memang ada keterlibatan dari yang bersangkutan,” ujar dia.

Penjelasan BNI

Terkait kasus tersebut, pihak BNI melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com menyampaikan, BNI telah melaporkan hasil temuan internalnya.

BNI telah mendeteksi terjadinya dugaan pelanggaran prosedur yang diduga telah dilakukan oleh oknum pegawai kepada pihak kepolisian.

“Pelaporan tersebut dilakukan agar dapat mempercepat pengungkapan dan penyelesaian kasusnya,” tulis pernyataan Kantor BNI Pusat melalui Wakil Ketua Cabang BNI Ambon, Noli Sahumena.

Noli menjelaskan, laporan BNI diterima oleh Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Maluku pada 8 Oktober 2019.

Sejauh ini BNI dan pihak kepolisian masih terus mendalami modus operandi yang dilakukan terduga pelaku, serta dampak yang mungkin timbul dari peristiwa itu.

“Langkah koordinasi dan pelaporan kepada aparat berwajib merupakan bagian dari komitmen BNI untuk menjaga dan memelihara kepercayaan nasabah kepada BNI,” ujar dia. (*)

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul "Karyawati BNI Pembobol Rp 124 Miliar Kerap Bagi-bagi Hadiah Mobil di Acara Ultah Teman."