Profil Rektor ITB Terpilih Reini D Wirahadikusumah Bukan Orang Sembarang, Bawa ITB di Kancah Global
Jumat, 8 November 2019 21:16
Editor: Theofilus Richard
Profil Rektor ITB Terpilih Reini D Wirahadikusumah Bukan Orang Sembarang, Bawa ITB di Kancah Global
Profil Rektor ITB Terpilih Reini D Wirahadikusumah Bukan Orang Sembarang, Bawa ITB di Kancah Global 

Dalam sejarah Institut Teknologi Bandung (ITB) telah memiliki rektor perempuan baru untuk periode 2020-2025, yakni Reini D Wirahadikusumah, sosoknya bukan orang sembarang

TRIBUNJABAR.ID - Institut Teknologi Bandung (ITB) telah memiliki rektor baru untuk periode 2020-2025.

Berdasarkan hasil pleno rapat Majelis Wali Amanat (MWA), rektor baru di ITB itu adalah Prof. N.R Reini D. Wirahadikusuma.

Reini D Wirahadikusumah sebagai rektor menggantikan Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA.

Reini D Wirahadikusumah telah berhasil mengalahkan dua kandidat lainnya.

Yakni Jaka Sembiring dan Kadarsah Suryadi.

Sebelum resmi menjadi rektor ITB, Reini D Wirahadikusumah juga menempuh penyaringan yang diikuti oleh 30 kandidat.

Kemudian ia berhasil dalam penyaringan 10 kandidat.

Setelah melalui tahapan debat dan pemaparan ide gagasan, dia pun berhasil masuk sebagai 3 kandidat bakal calon rektor.

Terpilihnya Reini D Wirahadikusumah sebagai rektor ITB periode 2020-2025 menjadi satu hal yang menarik.

Pasalnya, ini kali pertama dalam sejarah, seorang perempuan menjadi rektor ITB.

Lantas siapakah Reini D Wirahadikusumah?

Berikut ini tribunjabar.id merangkum profil rektor ITB terpilih, Reini D Wirahadikusumah, dilansir dari laman resmi ITB.

Berikut profil Reini D Wirahadikusumah

Rektor ITB Reini
Rektor ITB Reini (Tangkapan Layar YouTube/Institute Teknologi Bandung via Kompas.com)

Nama lengkap dengan gelar, Prof.Ir. N.R. Reini Djuhraeni W. MSCE,Ph.D.

Reini merupakan salah satu ahli Manajemen dan Rekayasa Kontruksi pada Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan.

Sebelum menjabat sebagai rektor ITB, Reini sudah menyandang gelar Guru Besar.

Riwayat Pendidikan

Reini merupakan lulusan SMA Tarakanita Jakarta, sekolah Katolik khusus perempuan.

Mengenyam pendidikan di sekolah yang siswanya beragam dan lintas agama membuatnya mengekplorasi.

Reini menamatkan pendidikan sarjananya di ITB.

Kemudian S2 di Purdue University, Negara Bagian Indiana, Amerika Serikat.

Reini juga menamatkan S3 di universitas yang sama di Purdue University, Amerika Serikat.

Kiprah untuk ITB

Melansir dari kanal youtube ITB, Reini mengatakan bahwa dirinya sudah berkiprah di ITB sudah lebih dari 25 tahun.

Bahkan Reini D Wirahadikusumah juga sudah mengikuti sejumlah proyek.

Terbaru Reini terlibat dalam proyek Enabling Humanitarian Attributes for Nurturing Community-based Engineering (ENHANCE), 2019.

Proyek tersebut merupakan kerjasama ITB dengan Universitas Warwick dalam bidang rekayasa kemanusiaan yang dimulai dari 2018.

Ada banyak proyek lain yang melibatkan dirinya.

Selain itu ia juga menerbitkan beberapa publikasi.

Terakhir, ia menerbitkan Conceptual Framework for Construction Work in Indonesia (2018), bersama kedua rekannya.

Kemudian pada 2015 ia menerbitkan 'A Readiness Assessment Model For Indonesian Contractors In Implementing Sustainability Principles' yang diterbitkan di International Journal of Construction Management.

Ide Gagasan untuk ITB Masa Mendatang

Dalam video yang diunggah kanal YouTube ITB, Reini mengatakan bahwa motivasinya menjadi rektor tak lain adalah rasa syukurnya yang telah berkiprah di ITB.

Menurut Reini, menjadi rektor adalah memberikan kontribusi pengabdian untuk almamaternya.

Ia ingin membawa perubahan di ITB secara bertahap dan berkelanjutan.

Reini menyebut visi dan misi-nya sebagai In Harmonia Progressio untuk menggapai martabat bangsa dan reputasi dunia.

Reini berharap dapat berkontribusi dalam pengembangan ITB sebagai kampus terdepan di Indonesia.

Ia yakin dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, serta humaniora, ITB terdepan di kancah global.

Quote Reini D Wirahadikusumah

"Pemahaman akan kapasitas kita sendiri lah yang menjadikan kita seorang yang berhasil, apalagi perempuan, tentu akan banyak halangan dan rintangan yang menjadikan pikiran kita terpecah. Tapi, jangan sekali-kali itu dijadikan alasan, malah, kalau bisa, tunjukkan bahwa kita adalah perempuan yang bisa melampaui batas-batas tersebut tanpa harus meninggalkan keterbengkalaian di sisi manapun."