Ingat Bos Miras Oplosan Maut Cicalengka yang Tewaskan 45 Orang? Semua Hartanya Disita
Kamis, 5 Desember 2019 14:49
Editor: Ravianto
Ingat Bos Miras Oplosan Maut Cicalengka yang Tewaskan 45 Orang? Semua Hartanya Disita
Bos miras oplosan asal Cicalengka, Sansudin Simbolon. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kuasa hukum terdakwa bos minuman keras oplosan yang mengakibatkan puluhan orang, Sansudin Simbolon dan Hanciah Manik, mempertanyakan tindakan jaksa penuntut umum yang menyita semua aset kekayaan terdakwa terkait tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Kuasa hukum terdakwa, Andri Marpaung, mengungkapkan, dalam TPPU itu, Jaksa harus melihat tenggang waktu perbuatan tindak pidana (Tempus delicti)  tindak pidana awal (Predicate Crime).

"Tempus Dilicti sangat menentukan aset/harta yang diduga hasil tindak pidana pencucian uang," ujar Andri, setelah sidang di Pengadilan Negeri Bale Bandung, Bale Endah, Kabupaten Bandung, Rabu (4/12/2019).

"Bahwa berbicara mengenai Tempus delicti suatu tindak pidana hasil kekayaan yang patut diduga hasil dari tindak pidana pencucian uang."

Menurut Andri, kalau aset disita sebelum tindak pidana itu dilakukan, maka penyitaan tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku.

"Kalau hal itu tetap dipaksakan maka itu adalah perbuatan kesewenangan-wenangan yang melanggar hak asasi manusia dan hukum yang berlaku," ujar Andri.

Kaitannya dengan perkara TPPU Sansudin Sdan Hamciah, kata Andri, Jaksa Penuntut Menyita semua harta benda milik terdakwa.

"Harta tersebut diperoleh jauh sebelum tindak pidana awal (Predicate Crime)," kata dia.

Kuasa hukum terdakwa lainnya, Riswandy Sianipar, sebenarnya terdakwa Sansudin dan Hamciah, adalah seorang pekerja keras.

"Dulunya dia merantau dengan membawa hasil penjualan rumah di kampungnya, untuk dagang glosir, dan banyak usaha yang dijalankannya," ujar Riswandy.

Riswandy berharap, hakim yang memeriksa perkara ini dianugrahi kecermatan dan keprofesionalannya untuk mengadili terdakwa ini.

Aset yang disita

Bos miras oplosan asal Cicalengka, Sansudin Simbolon kembali diadili atas kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Jaksa penuntut umum pada Kejari Bale Bandung, Aisha Paramita menerapkan Pasal 3 juncto Pasal 10 Undang-undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Ancaman pidana di pasal itu 20 tahun dan denda Rp 10 miliar.

Dalam dakwaan jaksa yang dibacakan di Pengadilan Negeri Bale Bandung, Rabu (28/8), diuraikan aset Sansudin Simbolon yang dibeli dari hasil penjualan miras.

  1.  Satu unit kendaraan roda empat merek Toyota Alphard 2.5 G AT tahun 2017, warna putih metalik dengan No Pol D 1344 VBM, nomor rangka JTNGF3DH0H8011023, nomor mesin 2ARH957556;
  2. Satu unit kendaraan roda empat merek Toyota Fortuner 2.5 G MT tahun 2014, warna putih dengan No Pol D 1185 WZ, nomor rangka MHFJR69GXE90938631, nomor mesin 2KDU526561.
  3. Satu unit kendaraan roda empat merek Toyota Camry SV 22 tahun 1999, warna hitam dengan No Pol D 1158 VCI, nomor rangka MHF53SK2009000022, nomor mesin 5S4298784;
  4. Satu unit kendaraan roda dua merek Honda Type D1B02N26L2 AT, warna putih tahun 2018, dengan No Pol D 2222 WEH, nomor rangka MH1JFZ217JK255306;
  5. Satu unit Kendaraan roda dua merek Kawasaki NINJA RR Type KR150P, warna hijau tahun 2013 dengan No Pol D 3351 VDH, nomor rangka MH4KR150PDKP50232, nomor mesin KR150KEPC1539;
  6. Satu unit kendaraan roda dua type 2SX, warna merah tahun 2015, dengan No Pol D 2480 VDD, nomor rangka MH3SE9010FJ151272, nomor mesin E3R4E0176305;
  7. Satu unit kendaraan roda dua type 54P (Cast Wheel) AT, warna hijau tahun 2012 dengan No Pol D 4263 VAP, nomor rangka MH354P00BCJ378002, nomor mesin 54P378261;
  8. Satu unit unit kendaraan roda dua Kawasaki Ninja RR Type 150P, warna hitam Tahun 2008 dengan No Pol D 2152 VCI, nomor rangka MH4KR150M8P02600, Nomor mesin L 06774921.
?Bos miras oplosan asal Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung, Samsudin Simbolon dan istrinya, Hamciah Manik kembali diadili di Pengadilan Negeri Bale Bandung, Rabu (28/8/2019).
?Bos miras oplosan asal Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung, Samsudin Simbolon dan istrinya, Hamciah Manik kembali diadili di Pengadilan Negeri Bale Bandung, Rabu (28/8/2019). (Tribun Jabar/Mega Nugraha)

Adapun aset tak bergerak yang dibeli terdakwa antara lain:

1. Sebidang tanah dan bangunan dengan sertifikat hak Milik No. 218, Luas 224 M2, Surat Ukur Nomor 00005/2003 Desa Cicalengka Wetan, Kec. Cicalengka, Kab. Bandung, Prov. Jawa Barat;

2. Sebidang tanah dan bangunan berupa toko luas 210 M2, AJB Nomor 398-2002 yang terletak di Jl. Raya By Pass, Rt. 005 Rw. 08, Desa Cicalengka Wetan, Kab. Bandung a.n wajib Pajak SONDANG YUNITA MARPAUNG;

3. Sebidang tanah dan bangunan dengan sertifikat hak milik nomor 00005, luas 292 M2, Surat Ukur Nomor 00009 /2014 Desa Ganjar Sabar, Kec. Nagreg, Kab. Bandung, Provinsi Jabar atas nama SANSUDIN SIMBOLON;

4. Sebidang tanah dan bangunan dengan sertifikat Hak Milik Nomor 00005,luas 292 M2 surat ukur Nomor 00009/2014 Desa Ganjar Sabar, Kec.Nagreg, Kab Bandung, Prov Jabar, atas nama Sansudin Simbolon;

5. Sebidang tanah yang terletak di Blok Jangkung Persil 98 Kelas D V Kohir 2075 (Kp.Puri Adi Prima Rt.004 Rw.005 Desa Ganjar Sabar Kec.Nagreg Kab.Bandung dengan luas 2184 M2 atas nama H.SAHRONI (Alm) dengan batas Timur Jalan Desa, Selatan: Tanah Milik GAOS, Utara: Jln.Desa, Barat: Tanah milik H.DIDIN.

6. Sebidang Tanah yang terletak Persil 23 D III Kohir 1204 (Desa Bojong Kec.Cicalengka Kab.Bandung) dengan luas 2285 M2 dengan buku tanah nomor Sertifikat Hak Milik No.117 atas nama AMAS SUNANDAR.

7. Sebidang Tanah Kebun Sawit seluas 29,5 Hektare yang terletak di Rt.04 Dusun 09 Desa Muara Medak Kec.Bayung Lencir Kab.Musi Banyu Asin Provinsi Sumatera Selatan yang dibeli dari sdr.BURKAT Bin KURUN.

8. Sebidang Tanah atas nama sdr.H.MUHAMMAD NANDANG seluas 560 M2 lokasi Persil 98 D III Blok Cipasung, Kohir Nomor 1719 dengan batas-batas sebelah selatan tanah milik sdri.IDAH, sebelah Timur Jalan Desa, sebelah Barat tanah milik sdr.FERI dan sebelah Utara jalan gang.

9. Sebidang Tanah sesuai dengan Akta Jual Beli No.287/2016 yang dibuat oleh PPATS Kec.Nagreg dengan pihak penjual sdr. H. NANDANG dan pihak pembeli sdr.SANSUDIN SIMBOLON dengan objek jual beli tanah seluas 455 M2 Persil 98 D III Blok Cipasung Kohir Nomor 1719 dengan batas Utara tanah milik APONG, batas Timur tanah milik sdr. H. NANDANG, batas selatan tanah milik sdr. H. NANDANG, dan batas sebelah barat tanah milik sdr. H. NANDANG.

10. Sebidang tanah kebun sawit seluas 5 hektar yang terletak di Rt 04 Dusun 09 Desa Muara Medak Kec. Bayung Lencir Kab. Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan yang dibeli dari Burkat Bin Kurun, dengan Batas Sebelah Timur Jalan Poros Kebun Desa Medak, sebelah Barat Tanah Milik Sansudin Simbolon, sebelah Selatan Jalan Poros Kebun Desa Medak, sebelah Utara Tanah Milik Sansudin Simbolon.

Jaksa Aisha Paramita dalam dakwaannya mengatakan, Sansudin dan Hamciah sejak 2010 hingga 2018, berjualan miras berbagai merek. Kemudian pada 2014, kedua terdakwa menjual miras oplosan produksi sendiri.

Komposisinya, air mineral, multivitamin serbuk, alkohol 97 persen, pewarna kue, pewangi rasa pisang ambon.

Miras oplosan bisa diproduksi hingga 50 liter dan dikemas dalam 66 botol.

Dalam sehari, terdakwa memproduksi miras oplosan maut itu hingga 5 kali.

"Dalam satu kali produksi, terdakwa mendapat keuntungan Rp 890 ribu. Miras dijual di toko dekat rumah di Cicalengka dan pembeli datang ke kios tersebut. Selain itu, miras oplosan dipasarkan di Cicalengka, Nagreg dan Kota Bandung," ujar Aisha.

Keuntungan yang didapat terdakwa selain dari pembeli yang datang, juga datang dari para pedagang yang menjual miras oplosannya.

"Bahwa atas keuntungan penjualan miras oplosan, digunakan sehari-hari. Selain itu, dibelikan berupa aset benda bergerak maupun tidak bergerak," ujarnya.

Tewaskan 45 Orang

Sansudin Simbolon (52), terpidana kasus miras oplosan yang menewaskan 45 orang di Kabupaten Bandung tahun lalu, wajahnya tegang, suaranya meninggi saat Tribun Jabar menemuinya di ruang tahanan Pengadilan Negeri Bale Bandung, Rabu (28/8/2019).

‎Tidak ada senyum saat Tribun Jabar menyapa bos miras oplosan Cicalengka tersebut. Wajahnya berkeringat.

Istrinya, Hamciah Manik menengok di balik jeruji, melihat suaminya berbincang dengan Tribun Jabar.

"Sehat gimana, dibui. Mana bisa tenang, sidang belum selesai-selesai. Kalau sidang selesai pun enggak‎ akan tenang, kemarin saya dipidana 20 tahun, belum sekarang. Mana bisa tenang," ujar Sansudin saat menjawab sapaan Tribun Jabar yang menanyai kabarnya.

Sansudin nyaris tidak tersenyum. Nada suaranya berat. Setelah divonis bersalah dan hakim menjatuhkan hukuman 20 tahun pada tahun lalu, ia diadili lagi karena kasus pencucian uang.

"‎Dibui 20 tahun ditambah lagi kasus ini, saya belum tahu apakah saya masih masih hidup setelah dibui nanti," ujar Sansudin.

Menurut jaksa penuntut umum, dalam dakwaannya untuk Sansudin Simbolon dan Hamciah Manik, keduanya selama 2014-2018 memproduksi miras oplosan.

Hasil penjualan miras oplosan selama kurun waktu itu dibelikan sejumlah aset.

Di antaranya, 8 aset bergerak semisal kendaraan bermotor hingga 10 bidang tanah.

Sansudin menjalani pidana di Lapas Narkotika Jelegong, sedangkan istrinya di Lapas Perempuan Bandung.

Sansudin tampak pesimistis menghadapi masa depannya di tengah kasus yang menjeratnya.

"Umur saya 52 tahun. Dibui 20 tahun, keluar katakan 70 tahun (belum kasus TPPU). Sedangkan orang-orang usia 50-60 tahun (sudah meninggal)," kata Sansudin.

"Ya terima, mau bagaimana sebagai warga. Sepertinya ini sengaja memiskinkan saya, bukan hanya pada perbuatan kesalahan saya. Ini (saya) sengaja dimiskinkan," ujar Sansudin.

Baginya, hukuman 20 tahun pidana penjara terlalu berat. ‎Sedangkan Hamciah Manik dipidana penjara 7 tahun.

"Kemarin (penjara 20 tahun) juga sudah keterlaluan, saya kan tidak tahu kalau itu akan beresiko seperti itu. Saya ini usaha, saya memang salah, tapi saya enggak tahu efeknya gitu. Saya ini peminum, saya minum minuman yang saya buat dan tidak ada korban," ujar dia.

Sansudin dijerat Pasal 3 juncto Pasal 10 Undang-undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Selain ancaman pidana 20 tahun dan denda Rp 10 miliar, aset yang dibeli dari hasil penjualan miras pun disita.

"Aset disita. Mobil Alphard saat saya ditangkap, itu kan cicilan, saya ditagih. Saya balikin mobilnya. Saya dapat pengembalian uang DP Rp 260 juta. Mobil Fortuner sudah saya jual untuk keperluan lima anak-anak saya. Mobil Camry bukan punya saya," ujarnya.

‎"Sekarang sudah tidak punya apa-apa. Semeter pun tanah sudah tidak ada. Rumah dan tanah sudah habis semua, lima anak saya mencar-mencar, ada di Bandung ada di Bali. Semua tinggal sama keluarga," ujar Sansudin.

Ia bersikukuh bahwa perbuatannya tidak pernah ia sadari akan menewaskan banyak orang. Ia berdalih turut meminum minuman yang ia racik.

"Saya peminum, tapi karakter saya bukan pembunuh. Saya buat minuman itu dari yang sudah ‎ada, kan bukan saya saja yang memproduksi," ujar Sansudin.

Saat ini, ia sedang menjalani pidana penjara selama 20 tahun sejak divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Bale Bandung, Oktober 2018. Istrinya, Hamciah Manik, dipidana penjara selama 7 tahun.(*)