Pemilik Lahan Siap Beri Kompensasi, Yana Minta Masalah Gang Apandi Braga Diselesaikan Secara Baik
Selasa, 14 Januari 2020 21:36
Editor: Dedy Herdiana
Pemilik Lahan Siap Beri Kompensasi, Yana Minta Masalah Gang Apandi Braga Diselesaikan Secara Baik
Kondisi rumah-rumah yang ada di Gang Apandi, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Senin (13/1/2020). Sejumlah bangunan tampak ada yang sudah dirobohkan karena sudah dilakukan pembebasan lahan, sedangkan bangunan lainnya tampak masih ada yang berdiri dan dihuni warga. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Tiah SM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana meminta agar perselisihan antara warga dan pemilik lahan tentang Gang Apandi yang berada di kawasan Braga, bisa diselesaikan secara baik-baik.

"Pemkot sudah melakukan mediasi dengan mempertemukan warga dan pemilik tanah (lahan), saat hasilnya sepakat akan menyelesaikan masalah yang ada," ujar Yana di Balai Kota, Selasa (14/1/2020).

Yana berharap, selama ada kesepahaman antara warga dan pemilik, pihaknya sebagai perwakilan pemerintah mempersilakan apapun keputusannya nanti.

Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, Senin (11/11/2019).
Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, Senin (11/11/2019). (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

Terkait pemilik lahan akan memberikan kompensasi kepada warga yang akses jalannya tertutup, Yana menyerahkan kepada kedua belah pihak.

Sementara itu, Kuasa Hukum Josafat Winata pemilik lahan di Gang Apandi, Francis Ebby menuturkan, upaya rekonsiliasi ini merupakan agenda yang telah disiapkan sejak lama.

Sebelum kisruh mencuat, pihaknya telah menemui perwakilan warga.

Pihak Josafat pun telah menyediakan dana kompensasi bagi warga dan hampir 70 persen warga mau menerima uang kompensasi.

Selain diberikan kompensasi, pihak Josafat juga memastikan jika aksesibilitas warga tidak akan terganggu saat gang di dalam lahan milik Josafat ditutup.

Soalnya ada Gang Cikapundung yang selama ini juga menjadi jalur utama lalu lintas warga sekitar.

Francis mengakui hingga sekarang ini ada beberapa warga menolak pemberian kompensasi, bahkan ada yang berupaya menutup pintu komunikasi dengan warga padahal sudah mengarah pada proses perdamaian dan penciptaan kondusivitas.

"Sebagai tetangga yang ingin mengedepankan nuansa kekeluargaan dalam proses ini, kami merasa kasihan dengan warga lainnya yang kami yakin mereka juga berharap terbentuknya silaturahmi yang baik," ujarnya.

Ia juga khawatir jika pertimbangan warga yang mau menerima perdamaian dipengaruhi oleh pihak lain yang bukan warga sekitar.

Lahan milik Josafat Winata seluas 3.400 meter persegi di RW 08 Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, hasil dari pembebasan 27 bangunan.

Sedangkan 197 bangunan dihuni warga sebagai pemiliknya, minta agar Gang Apandi tidak ditutup karena jalan akses sejak zaman Belanda.

Anggota Komisi A DPRD Kota Bandung, Aan Andi Purnama menjelaskan terkait keluhan masyarakat akan kosongnya ketersediaan blanko KTP-el di Disdukcapil Kota Bandung, di Gedung DPRD Kota Bandung, Jalan Sukabumi, Bandung, Senin (14/10/2019).
Anggota Komisi A DPRD Kota Bandung, Aan Andi Purnama di Gedung DPRD Kota Bandung, Jalan Sukabumi, Bandung, Senin (14/10/2019). (Tribunjabar.id/Cipta Permana)

Anggota DPRD Kota Bandung Aan Andi Purnama minta pemerintah Kota Bandung mengambil putusan tegas dengan melarang penutupan Jalan Gang Apandi karena itu gang masuk bangunan heritage.

"Pemerintah tidak bisa menyerahkan keputusan kepada warga dan pemilik lahan tapi harus ambil keputusan melindungi cagar budaya tipe A," ujar Andi.

Sementara itu, Ate Sukardi (55) warga Gang Apandi mengaku belum tahu akan ada uang kompensasi dari pemilik lahan.

Meski demikian, Ate tetap berharap tidak ada penutupan Gang Apandi karena khawatir ada bencana.

"Jalan memang ada tapi jalannya rendah sehingga kalau banjir tertutup air dan Gang Apandi yang bisa dilalui dengan mudah," ujarnya.

Mulut Gang Apandi yang dibangun di bawah bangunan zaman Belanda. Gang ini sudah ada sejak zaman penjajahan.
Mulut Gang Apandi yang dibangun di bawah bangunan zaman Belanda. Gang ini sudah ada sejak zaman penjajahan. (Tribun Jabar/Syarif Pulloh Anwari)

Penutupan Gang Hanya untuk Jadi Tanda Kepemilikan

 Pemilik lahan Gang Apandi tetap akan menutup gang Apandi tapi dengan memberikan uang kompensasi kepada warga sekitar.

"Kami ingin menjadi tetangga yang baik, makanya kompensasi diberikan, " ujar wakil pemilik lahan Gang Apandi, Irvan Ansori Mutaqin di Jalan Braga, Senin (13/01/2020).

Irvan mengklaim perselisihan antara warga dengan pemilik lahan di Gang Affandi, Braga, Bandung, mulai mengarah pada proses perundingan.

Pemilik lahan berinisiatif untuk memberikan kompensasi kepada warga sekitar.

“Meskipun bukan sebuah kewajiban, pemilik lahan berinisiatif untuk memberikan kompensasi bagi warga. Kami tak ingin masalah ini berlarut. Pemilik juga kasihan kepada warga. Kami hanya ingin menciptakan kerukunan, itu saja sih harapan besarnya,” ujar Irvan.

Irvan mengatakan penutupan Gang Apandi hanya sebagai patok/tanda kepemilikan karena untuk membangun itu belum jelas.

Menurut Irvan ditutupnya Gang Apandi tidak menutup akses jalan warga, karena masih ada jalan termasuk akses ke Jalan Braga.

"Ada Gang Cikapundung, tak jauh dari Gang Apandi, ada akses jalan ke Suniaraja, jalan cukup besar," ujarnya.

Irvan juga tidak akan membiarkan warga jika ada musibah banjir atau kebakaran, pasti akan dibantu kalau sangat darurat tidak masalah membongkar benteng.

Seperti diketahui, perselisihan sempat muncul ketika warga menyatakan keberatan atas ditutupnya Gang Apandi, di Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung.

Di sisi lain, Gang Affandi yang disinggung berada di atas lahan milik Josafat Winata.

Gang itu berada di dalam data fisik dan yuridis dari Sertifikat HGB No. 747, No. 781, dan No. 782 Kelurahan Braga milik Josafat Winata.

Gang Apandi di Jalan Braga. Nama gang diambil dari nama juragan tanah di Jalan Braga.
Gang Apandi di Jalan Braga. Nama gang diambil dari nama juragan tanah di Jalan Braga. (Tribun Jabar/Syarif Pulloh Anwari)

Berdasarkan Bagian Aset Pemkot Bandung, gang yang ditunjukkan itu bukan merupakan Aset milik Pemkot Bandung.

Hal itu juga ditunjukkan oleh posisi mulut gang yang berada di bawah atap bangunan cagar budaya yang berada di samping Jalan Braga.

Desain mulut gang itu menjadi satu kesatuan dengan bangunan cagar budaya itu.

Lebar mulut gang yang bisa terlihat dari depan restoran historis Braga Permai itu hanya 3 meter. Posisinya tepat di samping eks Toko Buku Djawa.

Dari mulut gang itu terdapat lorong sepanjang 15 meter dengan tinggi sekitar 4 meter.

Struktur bangunan di atas lorong tersebut diyakini merupakan kolong bangunan cagar budaya.

Sertifikat hak milik dari rangkaian bangunan yang menjadi pertokoan di Jalan Braga dengan panjang sekitar 30 meter itu diketahui masih milik Josafat Winata.

Mulut gang dari Jalan Braga merupakan akses ke lahan bagian belakang dengan total luas lahan dalam HGB mencapai 3 ribu meter persegi.

Irvan menambahkan, langkah yang dilakukan pihak Josafat merupakan bentuk iktikad baik supaya hadir win-win solution.

Sebetulnya upaya rekonsiliasi ini sempat ditempuh.

Tawaran ini disambut positif ratusan Kepala Keluarga.

Terakhir ada 105 KK yang mengumpulkan kartu keluarga hanya dalam waktu 3 hari, sebagai bentuk dukungan.

Ketika jumlah KK yang berminat bertambah terus, langkah itu dihalang-halangi oknum pengurus.

Kompensasi dari Josafat sebagai pemilik lahan juga pernah dilakukan pada September 2018.

Lahan luas yang saat ini telah dibongkar sebelumnya sempat diisi 27 rumah yang digunakan warga sejak lama.

Saat proses penataan akan dimulai, Josafat memberi bantuan berupa kompensasi biaya supaya penghuni lahan miliknya bisa dimudahkan untuk pindah dan mencari lokasi rumah tinggal baru.

“Uang kerahiman itu diberikan oleh pemilik lahan dengan nilai bervariasi. Meskipun pemilik punya hak untuk menggunakan lahannya, tetapi uang kerahiman tetap diberikan atas dasar kemanusiaan. Makanya waktu itu proses pembongkaran berlangsung normal,” kata Irvan.

Sejumlah warga dari RW 08 memprotes rencana penutupan Gang Apandi dengan cara membentangkan spanduk berukuran besar bertuliskan penolakan di samping mulut gang tersebut di Jalan Braga, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Selasa (10/9/2019). Warga menolak penutupan Gang Apandi karena selain dianggap sebagai tempat peninggalan bersejarah, juga gang tersebut sebagai akses utama warga di permukiman tersebut.
Sejumlah warga dari RW 08 memprotes rencana penutupan Gang Apandi dengan cara membentangkan spanduk berukuran besar bertuliskan penolakan di samping mulut gang tersebut di Jalan Braga, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Selasa (10/9/2019). Warga menolak penutupan Gang Apandi karena selain dianggap sebagai tempat peninggalan bersejarah, juga gang tersebut sebagai akses utama warga di permukiman tersebut. (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Mengenai kekhawatiran warga terkait ditutupnya Gang Affandi, sebetulnya ada gang lain yang menjadi urat nadi lalu lintas warga.

Gang tersebut adalah Gang Cikapundung. Rutenya memanjang di sisi lahan milik Josafat. Gang Cikapundung ini memiliki konektifitas terbuka yang mampu tembus ke Jalan Banceuy dan Jalan Suniaraja.

Dana kompensasi yang akan diberikan Josafat ini juga akan diberikan bagi warga yang sempat menjalankan usaha di atas lahan itu.

“Kami juga mempertimbangkan banyak hal supaya tetap berkomitmen bagi keberlangsungan aktivitas warga sekitar. Sebagai tetangga, tentu kami berupaya memberikan yang terbaik atas dasar kerukunan dan keguyuban antarwarga di wilayah ini,” ujar Irvan. (tiah sm)