Lebaran dan Labirin
Jumat, 22 Mei 2020 23:59
Editor: Agung Yulianto Wibowo
Lebaran dan Labirin
PNS Wanita Terekam Kamera Saling Serang dan Baku Hantam di Kantor Bupati, Ternyata Pejabat Penting

TRIBUNJABAR.ID - Sebentar lagi seluruh umat Islam di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Idulfitri yang dalam terminologi lokal disebut Lebaran.

Lebaran identik dengan ritual saling berbagi dan silaturahim untuk menyambung tali keakraban yang terputus atau merapatkan persaudaraan.

Namun, pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal kehidupan sosial manusia.

Ruang-ruang kehidupan dilakukan pembatasan demi kemaslahatan.

Lebaran kali ini dipastikan tak ada semarak mudik, salat Id berjemaah di masjid, dan tak ada silaturahmi fisik.

Bahkan, untuk silaturahim dengan menemui kerabat dan tetangga yang biasanya mendatangi rumah disarankan cukup dilakukan secara daring (online).

Silaturahim atau halal bihalal diimbau cukup dilakukan melalui media sosial dan konferensi video.

Lebaran

Lebaran berasal dari  kata lebar yang maksudnya agar di hari raya kita harus berdada lebar atau lapang dada untuk meminta dan sekaligus memberi maaf kepada sesama.

Maaf diambil dari kata ‘afa yang berarti menghapus.        

Dengan demikian, sesuatu yang telah dihapus mestinya hilang sehingga tidak ada yang perlu diingat lagi.

Perkara memaafkan ini seringkali lebih mudah diucapkan, padahal praktiknya sulit.

Agama pun hanya menganjurkannya tidak mewajibkan karena pemaafan haruslah tulus tidak ada paksaan dari manapun.

Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (jaminan) Allah (QS asy-Syura :40).

Sebagai manusia yang memiliki potensi untuk berbuat salah dan khilaf, saatnya kita menyadari kesalahan dan berusaha kembali ke fitrah (suci) dengan cara memperbaiki hubungan sesama (human relations) secara baik.

Di momen Lebaran pun kita diharuskan memiliki sifat “luberan”. Artinya kita bermurah hati.

Terlebih di kondisi yang serba sulit dan terbatas ini kita dianjurkan meluberkan maaf atas kondisi ketidaknyamanan dengan tidak menunjuk satu pihak sebagai biang keladi atas semua persoalan.

Tak cukup itu, kita pun harus “laburan”. Maksudnya, mengecat kembali semuanya dengan warna putih.

Semua kesalahan yang telah dilakukan harus kita perbaiki dan tidak kita ulangi lagi.

Akhirnya kita harus “leburan”. Intinya adalah meleburkan semua kesalahan manusia.

Ketika luberan, laburan, dan leburan mampu diinsafi saat Lebaran, maka akan lahir manusia baru.

Syaratnya, diri Anda yang lama harus mati agar diri Anda yang baru dapat dilahirkan kembali.

Lagi-lagi, status pandemi Covid-19 sejak pertengahan Maret 2020 telah membuat aktivitas umat manusia di seluruh dunia harus terhenti dan disiasati semuanya dilakukan dari rumah, baik untuk bekerja, belajar, maupun pelaksanaan ibadah.

Semua manusia yang hidup di muka bumi seperti tak diberi pilihan lain, kecuali menghadapi kenyataan pahit bahwa manusia tengah dilanda ketakutan akan ancaman kesehatan, ekonomi yang babak belur, dan dampaknya sosial yang ditimbulkannya.

Apa yang terjadi sebenarnya merupakan gambaran labirin kehidupan yang telah didesain oleh Sang Maha Pencipta.

Labirin

Secara resmi labirin didefinisikan sebagai tempat yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku dan simpang siur.

Selain itu, bisa dipahami sesuatu yang sangat rumit dan berbelit-belit.

Bisa dibayangkan, ketika kita masuk sebuah taman labirin pasti akan disuguhi ribuan teka-teki dan kerumitan agar kita bisa menemukan jalan keluar.

Chloe Thurlow, penulis The Secret Life of Girls, mengatakan hidup adalah labirin yang darinya kita tidak pernah bisa lari.

Setiap keputusan membawa kita ke arah yang berbeda dan setiap kali kita berbelok ke satu cara kita bisa dengan mudah membalik yang lain.  

Sesungguhnya setiap individu mempunyai labirin kehidupannya masing-masing.

Saat memasuki labirin tersebut, kita harus melakukannya dengan penuh suka cita, kesabaran, dan optimisme tinggi.

Pasalnya, agar bisa mendapatkan jalan yang dituju senantiasa dihadapkan sejumlah kebingungan untuk memilih jalan yang tak jarang menimbulkan kemarahan, ketakutan hingga frustasi.

Hanya mereka yang memiliki mentalitas tangguh pantang menyerah, optimisme, dan taat atas perintah-Nya yang akan mampu melewati lorong-lorong kehidupan yang acapkali membuat kita bimbang atas apa yang harus dilakukan sehingga bisa mendapati celah untuk  lolos dari kebuntuan.

Ada perasaan bahagia tak terkira bagi mereka yang mampu melewati setiap fase labirin tersebut.

Begitu pula dalam kehidupan yang pasti akan memaksa setiap orang melalui lika-liku.

Saat dihadapkan dengan kenyataan dinamika kehidupan serba tak pasti seperti saat ini cara pandanglah yang harus dibenahi dan dijaga sehingga mampu membuat kita bertahan.

Dengan demikian, labirin bisa dimaknai bagian dari keindahan yang tak berujung dan berliku.

Kita akan belajar untuk melihat keindahan hidup, ketika mata baru kita membantu mulai memahami labirin, perlahan-lahan kita akan menyadari bahwa labirin itu dibuat untuk menyeleksi individu.

Sehingga tidak semua orang yang bisa mencapai derajat ketakwaan-Nya.

Imam Ali Bin Abi Thalib mengatakan, yakinlah ada sesuatu yang menantimu setelah banyak kesabaran, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit.

Mampukah kita bersabar melalui ujian labirin kehidupan di momen Lebaran ini?

Hedi Ardia

(Warga Nahdliyin, Pegiat Demokrasi dan Peminat Kebijakan Publik)