Pakar Psikologi Jelaskan Mengapa Warga Nekat Penuhi Pusat Perbelanjaan di Tengah Ancaman Corona
Jumat, 22 Mei 2020 22:37
Editor: Ravianto
Pakar Psikologi Jelaskan Mengapa Warga Nekat Penuhi Pusat Perbelanjaan di Tengah Ancaman Corona
Pandemi Covid-19, Warga Berjubel Kunjungi Pasar Palabuhanratu, Pedagang Sebut Omzet Turun 50 % 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Sejumlah daerah di Indonesia telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB dalam rangka menekan penyebaran virus corona atau Covid-19.

Namun, belum lama ini pasar dan pusat perbelanjaan ramai dipenuhi masyarakat.

Adanya kerumunan warga membuat protokol Covid-19 yang harusnya diterapkan jadi terabaikan.

Teranyar dan menjadi hangat di kalangan media sosial adalah penuhnya Pasar Tanah Abang di tengah Pemprov DKI masih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Begitu pula di pusat perbelanjaan Roxy Mall, Jember, Jawa Timur, yang sempat ramai dengan pengunjung.

Padahal, hingga kini seluruh wilayah di Jawa Timur menetapkan ketentuan menjaga jarak atau physical distancing.

Kasus lainnya terjadi di Mall CBD Ciledug, di tengah Kota Tangerang masih melakukan penerapan PSBB untuk menekan penyebaran Covid-19.

Tangkap layar video yang berisi Mal CBD Ciledug ramai pengunjung
Tangkap layar video yang berisi Mal CBD Ciledug ramai pengunjung (Tangkap layar Twitter @mbelgedez)

Akhirnya, Pemerintah Kota Tangerang menutup sementara operasional Mall CBD Ciledug.

Padahal jumlah kasus di Indonesia sudah mencapai 20.796 per 22 Mei 2020, dengan 5.057 orang diyatakan sembuh dan 1.326 orang meninggal dunia.

Berdasarkan artikel kolom yang ditulis oleh Sandi Kartasasmita, M.Psi, Psikoterapis, psikolog, dosen tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap Covid-19 adalah hal biasa dan bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Pola pikir untuk menjaga kesehatan dan berobat yang minim menjadi salah satu penyebabnya.

Sebagian besar masyarakat masih menganggap penyakit ini masih jauh, tidak perlu ditakutkan.

Mereka juga berpikir bahwa ini semua akan berlalu meski belum tahu kapan, memiliki Tuhan yang pasti senantiasa akan melindungi sehingga tidak akan terkena penyakit tersebut.

Kalaupun akhirnya kena, karena itu sudah kehendak Tuhan.

Dalam Psikologi Kesehatan dikenal istilah Health Belief Model (HBM), pendekatan yang dapat memberikan gambaran mengapa seseorang mau atau enggan pergi menemui tenaga kesehatan.

Kondisi yang dapat membuat mau mencari atau tidak mencari adalah "persepsi".

Dalam kondisi penyebaran Covid-19 ini, pada awalnya masyarakat masih banyak yang merasa bahwa penyakit ini masih jauh dan tidak dekat dengan tempat tinggalnya.

Ini disebut dengan perceive susceptibility atau kerentanan apa yang dirasakan/diketahui.

Kemudian ada perceive severity, yakni bahaya atau keparahan penyakit yang dialami.

Masyarakat juga memiliki pemikiran bahwa ini adalah penyakit seperti influenza atau yang dikenal dengan sakit pilek, yang umumnya terjadi di Indonesia.

Selain itu, ada perceive benefit of action, apa manfaat yang akan didapatkan dari tindakan yang dilakukan.

Dalam masa PSBB, di mana harus bekerja, belajar, bahkan beribadah di rumah ternyata tak bisa diikuti oleh sebagian orang.

Ratusan orang yang memadati halaman parkir Sarinah saat acara penutupan gerai McD di pusat perbelanjaan tersebut, Minggu (10/5/2020).
Ratusan orang yang memadati halaman parkir Sarinah saat acara penutupan gerai McD di pusat perbelanjaan tersebut, Minggu (10/5/2020). (Tribun Jakarta/Arya Bima Suci)

Saat pemerintah mengumumkan untuk di rumah saja, maka yang dipikirkan adalah:

kalau tidak keluar rumah, tidak bekerja, maka bagaimana dapat uang? Apabila tidak ada uang, bagaimana dapat makan? Kalau tidak makan, maka akan kelaparan.

Jadi, imbauan untuk berdiam di rumah, apabila tidak ditunjang kebijakan lain yang menyertai, akan sulit untuk diikuti oleh masyarakat karena keuntungan yang akan diperoleh tidak terlihat.

Ada pula yang disebut dengan perceive barrier to action, hambatan dari tindakan yang akan dilakukan.

Hambatan-hambatan yang dapat muncul didasari beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, tempat tinggal, penilaian mengenai diri sendiri, apakah sanggup atau tidak sanggup mengatasi penyakit tersebut, ataupun keyakinan bahwa tidak akan terkena penyakit tersebut karena berbagai faktor penguat keyakinan tersebut.

Terakhir adalah cues to action, isyarat untuk melakukan tindakan.

Pada akhirnya tindakan apa yang akan diambil dan dilakukan terhadap penyakit Covid-19?

Apakah akan memeriksakan diri saat gejala muncul?

Adanya instruksi pemerintah dengan cara melakukan social disctancing bila harus keluar rumah, berdiam di rumah, semua adalah pilihan perilaku yang akan diambil.

"Saat keyakinan tidak akan terkena penyakit dan berpikir tidak mungkin terkena, tanpa disadari kita sudah masuk ke dalam kondisi optimistic bias. Kondisi ini adalah kondisi yang meyakini bahwa diri sendiri tidak akan terkena hal-hal yang negatif atau buruk," tulis Sandi.

Oleh karena itu, apabila meninjau kondisi saat ini, maka ada baiknya bila diberikan informasi mengenai keuntungan-keuntungan apa yang akan didapatkan bila melakukan tindakan-tindakan yang dianjurkan pemerintah, dan kerugian apa yang akan diderita apabila tidak menjalankannya.

19 Terdapat beberapa keuntungan dengan berdiam diri di rumah.

Pertama, menjadi salah satu orang yang berjasa untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit ini.

Kedua, waktu kerja yang fleksibel.

Saat bekerja di rumah, tentunya dapat menentukan kapan memulai dan akan menyelesaikan suatu pekerjaan.

Ketiga, lebih irit dalam mengeluarkan uang untuk keperluan ongkos perjalanan dan makan siang, karena semua dikerjakan di rumah.

Keempat dan yang merupakan keuntungan terpenting, yaitu lebih dekat dengan keluarga.

Saat bekerja di rumah, tentunya berbagai hal dapat dikerjakan di dekat orang–orang yang disayang.

Tidak perlu pergi berlibur untuk dapat bersama keluarga, namun, saat–saat seperti sekarang waktunya bersama keluarga.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Sedang Corona, Kenapa Warga Berkerumun di Pasar dan Mall? Ini Kata Ahli