Menikmati Kopi Lokal di Waja Kopi Kuningan, Lihat Mahahari Terbit di Ketinggian 1.078 Mdpl
Sabtu, 1 Agustus 2020 18:53
Editor: Kisdiantoro
Menikmati Kopi Lokal di Waja Kopi Kuningan, Lihat Mahahari Terbit di Ketinggian 1.078 Mdpl
Sejumlah pengunjung sedang menikmati kopi di kedai Waja Kopi di Kuningan. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNJABAR.ID, KUNINGAN – Anda yang sedang menikmati kopi lokal, bisa nih berkunjung ke kedai Waja Kopi.

Keda Waja Kopi terletak di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, menyajikan beragam kopi lokal, mulai dari kopi asal daerah Cibereum, Gunung Aci, dan Palutungan.

Selain kopi lokal, yang mendarik dari kedai Waja Kopi adalah lokasinya yang berada di ketinggian, yakni 1.078 meter di atas permukaan laut.

Di tempat ini, pengunjung bisa melihat detik-detik matahari terbit dengan jelas.

“Kami ajak pengunjung lokal Kuningan dan daerah lain untuk menikmati kopi-kopi dari daerah Cibereum dan Gunung Aci, untuk arabica di dari Palutungan. Jadi semuanya lokal, ” ungkap Dani, pengelola kedai Waja Kopi, saat ditemui di kedai tersebut, Sabtu (1/8/2020).

Usaha kedai kopi seperti ini, kata dia, juga dikembangkan di tempat lain dengan branding Ketan Susu Waja Kopi.

“Usaha pengembangkan, kami buka di Jalan Kedungarum – Ciporang dan luar Kuningan juga ada,” kata Dani.

Mengenai jenis kopi yang disajikan, kata Dani, adalah kopi Robusta dan Arabika.

”Penyajiannya, tentu dengan varian berbeda. Gimana pengunjung maunya model apa?” katanya.

Untuk bisa menikmati kopi di ketinggian 1087 Mdpl (meter dari permukaan laut), pengunjung bisa bayar tiket sebesar Rp 15 ribu, yang berada di gerbang masuk Sukageuri View.

“Iya, lokasi yang masih menyatu dengan Sukageuri View ini, dikelola oleh pemuda desa, sebagai pengembangan usaha kreatif masyarakat,” katanya.

Di masa pandemi Covid-19 Waja Kopi sempat libur. Namun sejak diterapkannya masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini, Waja Kopi dibuka kembali dengan mematuhi Perbup soal Protokol Kesehatan.

"Masa AKB, kami membatasi jumlah pengunjung dan jam operasional. Kami close order pada pukul 20:00 WIB," katanya.

Musim kemarau ini, ciri khas wisata alam di Kuningan yang memiliki udara sejuk makin terasa.

“Bahkan, pada waktu tertentu, suhu di lingkungan Waja Kopi bisa mencapai 14 derajat celcius,” katanya.
Dani menceritakan, sejak dibuka pada tahun 2018 lalu, Puncak Waja Kopi semakin jadi buruan para penikmat kopi asli Kuningan.

“Dari penelusuran pengelola Waja Kopi ini, kebanyakan pengunjung didominasi oleh kaum milenial. Pengunjung rentang usia 19-25 tahun. Namun tidak sedikit juga orangtua yang membawa serta keluarganya datang ke sini," ungkapnya.

Selain ngopi, kata Dani, pengunjung juga bisa berkeliling di lokasi wisata yang menyajikan wahana seperti lokasi camping, taman edelweiss khas Cigugur, serta rumah kelinci.

“Untuk setiap akhir pekan, Sabtu-Minggu, kata dia, pengunjung bisa datang dari pukul 05:00 pagi untuk bisa ngopi sambil melihat pemandangan sunrise (matahari terbit),” katanya.

Konsep Sunrise Point baru dibukanya beberapa waktu ini.

Karena letak kedai Waja Kopi berada di ketinggian 1.078 meter diatas permukaan laut, pengunjung bisa melihat detik-detik matahari terbit dengan jelas.

“Pemandangan dari ketinggian Puncak Waja Kopi ini selain bisa melihat Kuningan juga bisa melihat hamparan Kota Cirebon dari atas. Ini bisa dilakukan pada malam hari dan sangat indah melihat kelap-kelip lampu di pemukiman warga,” katanya.

Mengenai identitas Waja Kopi, dia menjelaskan bahwa nama itu berasal dari bahasa Sunda Kuno yakni Warugha (tubuh) dan Jagat (semesta) yang berarti tubuhnya semesta. (*)