Ilham Aidit Ketakutan Selama 44 Tahun, Tak Berani Tulis Nama Belakang Ayahnya Sang Dalang G30SPKI
Rabu, 15 September 2021 06:26
Ilham Aidit Ketakutan Selama 44 Tahun, Tak Berani Tulis Nama Belakang Ayahnya Sang Dalang G30SPKI
Cerita Ilham Aidit, Anak Dn Aidit yang Harus Hidup Sembunyikan Marga Aidit 

TRIBUNCIREBON.COM - Kesaksian anak petinggi PKI Dipa Nusantara (DN) Aidit terkait kehidupan pasca pecahnya G30S PKI. 

Peristiwa G30S PKI 1965 memang tak akan mudah terlupakan, bahkan menjadi sejarah kelam bangsa Indonesia.

Seperti yang diketahui kisah G30S PKI menjadi peristiwa kelam di pemerintahan Presiden Soekarno.

Terkait hal tersebut seorang anak petinggi PKI menceritakan kisah kelam pada waktu itu.

Inilah kisah dan sosok dari Ilham Aidit, anak dari Dipa Nusantara atau lebih dikenal DN Aidit.

Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit)

Cerita Ilham Aidit mengurai bagaimana rasanya menjadi anak dari petinggi Partai Komunis Indonesia ( PKI),  yang menjadi target utama militer saat pecahnya peristiwa G30S PKI 1965 silam.

Ilham Aidit menyisahkan kehidupannya ketika peristiwa kelam 30 September atau G30S PKI 1965 dan setelahnya.

Ia menceritakan kisah ketika ia berusia 6,5 tahun, tepat pada tahun G30S pecah.

Ilham menguraikan kisah perjalanan hidup saat sang ayah ditangkap dan diasingkan karena diduga sebagai dalang terjadinya tragedi kelam yang merenggut nyawa 7 Jenderal Angkatan Darat hingga sejumlah prajurit ABRI tersebut.

Hidup Ilham Aidit tidaklah senyaman seperti rakyat biasanya setelah peristiwa itu terjadi.

Kala itu ia telah melihat tulisan di dinding besar bertuliskan 'Gantung Aidit' seakan-akan sudah tahu jika kehidupannya ke depan akan sulit.

"Entah kenapa seperti ada yang berbisik pada waktu itu, kalau mulai dari hari ini hidup saya akan lebih sulit," kata Ilham Aidit menceritakan pada masa itu di Gedung Nusantara V DPR RI, Jakarta, Jumat (1/10/2010).

Melihat tulisan yang menyebut nama ayahnya, Ilham kecil langsung gemetar tubuhnya,

dan meyakinkan bahwa dirinya akan menjadi musuh negara.

"Padahal seminggu yang lalu bahkan sebulan sebelumnya saya sempat bertemu dan bermain dengan ayah saya (DN Aidit)," ungkapnya.

Namun, nasib baik masih berpihak kepadanya, ternyata masih ada orang yang mau mengangkatnya sebagai anak. Meski demikian, saat ia menempuh pendidikan SMP, banyak teman yang mengejek dirinya pakai kata 'Aidit gantung.'

Hal itu membuat dirinya marah dan kerap berkelahi.

Hingga kemudian, ia dipanggil oleh Pastur di sekolahnya.

Pastur itu mengatakan, ia tahu latar belakang Ilham dan cerita masa lalunya.

"Ia mengamati raport saya setiap catur wulan selalu baik, dan ia menasehati saya banyak hal,"imbuhnya.

Setelah itu, ia mengaku berupaya keras untuk mengubur nama Aidit yang berada di belakangnya.

Bahkan setiap kali ia akan menulis nama, ia selalu berhenti lama dengan keraguan untuk menuliskan nama Aidit di belakangnya, tetapi hal tersebut selalu diurungkannya dan selalu berusaha menutup serapat-rapatnya.

"Kalau saat mengisi nama dalam kertas ujian, saya selalu lama menulis nama Aidit di belakang nama saya," katanya mengenang saat itu.

Setelah 44 tahun akhirnya pada tahun 2003, ia mulai bisa menuliskan nama lengkapnya Ilham Aidit setelah dirinya bergabung dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa.

DN Aidit, anggota dna Ketua Partai PKI. Disebut dalan peristiwa G30S PKI 1965. (kissanak.wordpress.com/suratkabar.id)

"Saat itu saya bergandengan dengan Amelia (Anak Jenderal Achmad Yani) dan saat itu Kompas menulis nama saya dengan lengkap. 'Itulah awal dari kehidupan yang baru," ungkap Ilham Aidit.

Nasib Sang Istri

Soetanti sedang bertengkar dengan suaminya ketika malam 30 September 1965.

Tanti ketika itu ingin Aidit tetap di rumah dan tak mengikuti kemauan para penjemputnya. Meski demikian, Aidit tetap pergi.

Tiga hari setelahnya, Tanti meninggalkan rumah dan tiga anak lakinya.

Ternyata Tanti ketika itu menyusul suami ke Boyolali dan bertemu Bupati Boyolali yang merupakan tokoh PKI.

Lalu, keduanya berangkat ke Jakarta dengan cara menyamar sebagai suami istri.

Tak hanya itu, mereka juga mengambil dua bocah sebagai anak angkat.

Awal sandiwara mereka ini sukses namun kemudian tetangga mulai curiga karena sikap anak angkat yang tak pernah manja ke orang tuanya. Hingga keduanya ditangkap.

Tanti mengalami perpindahan penjara dari satu penjara ke penjara lainnya sampai tahun 1980, diantaranya tahanan Kodim 66 dan Penjara Bukit Duri.

Lepas dari masa hukuman, Tanti sempat membuka praktek sebagai dokter.

Meski demikian, ia mengalami sakit-sakitan dan meninggal dunia tahun 1991.

Berita lain terkait Permberontakan G30S/PKI