Jarang Dilakukan, Berjemur Pada Jam 10.00 Ternyata Cegah Terinfeksi Virus Corona, Imun Meningkat
Rabu, 15 September 2021 07:33
Jarang Dilakukan, Berjemur Pada Jam 10.00 Ternyata Cegah Terinfeksi Virus Corona, Imun Meningkat
Ilustrasi berjemur sinar matahari pagi. 

TRIBUNCIREBON.COM - Ketika pandemi Covid-19 belum hilang, tak sedikit orang menyempatkan diri untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi

Karena hal ini disebutkan ahli kesehatan sebagai salah satu cara mujarab untuk meningkatkan imunitas demi mencegah terinfeksi virus corona alias Covid-19.

Hanya saja, orang khususnya di Nusantara ini banyak yang terbiasa berjemur tubuh di pagi hari antara pukul 07.00 hingga 09.00.

Namun, ternyata itu adalah waktu yang kurang tepat untuk berjemur.

Pemahaman yang keliru ini disebut ahli kesehatan tidak akan banyak mendatangkan manfaat yang orang cari, sebaliknya risiko gangguan kesehatan malah bisa didapat. 

Ahli gizi komunitas dr. Tan Shot Yen mengungkapkan hal tersebut melalui sebuah video di akun YouTube-nya.

Menurutnya, waktu berjemur badan yang tepat di bawah sinar matahari adalah sekitar pukul 10.00, bukan lebih pagi dari itu. 

"Yang kita butuhkan sebetulnya adalah ultraviolet B. Ultraviolet B ini gelombangnya lebih pendek. Itu sebabnya, kita harus tunggu sedikit mataharinya naik. Jadi, kita di khatulistiwa, jam 10 sudah ada. Itu adalah alasan kita jemurnya jam 10.00," kata Tan.

Menurut Tan, dalam berjemur juga tidak perlu berlama-lama, cukup selama 15-20 menit, mengingat sinar matahari juga sudah cukup panas.

Semakin banyak permukaan kulit yang terpapar sinar matahari di waktu ini, disebut Tan semakin baik pula hasilnnya. 

Untuk itu, Tan mengimbau, bagi perempuan yang mengenakan jilbab atau kerudung, jika ingin berjemur matahari sebaiknya dilakukan di rumah agar ultraviolet B yang mereka cari dapat secara langsung mengenai permukaan kulit. 

Tan menjelaskan, ultraviolet B yang sinar matahari bawa di pukul 10.00 akan bekerja bersama kolesterol yang ada di bawah permukaan kulit membentuk Vitamin D3.  

"Jadi, ultraviolet B yang mengandung provitain B3 bersama kolesterol di bawah kulit kita akan membentuk vitamin D3. Nah, vitamin D3 inilah menjadi sumber kekebalan tubuh manusia," sebut dia. Selain itu, Vitamin D3 juga berfungsi untuk mencegah kanker dan penyakit autoimun. 

Tapi, Tan menegaskan, berjemur matahari bukanlah untuk mematikan virus atau bakteri yang ada di dalam tubuh atau di permukaan kulit, melainkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh agar tidak mudah terserang virus. 

"Cahaya matahari enggak matiin virus. Kalau memang virusnya ada, tetep saja ada. Tetapi, cahaya matahari mengandung ultraviolet B," ujar Tan. 

Sementara berjemur di pagi hari sekitar pukul tujuh saat sinar matahari masih redup, Tan mengatakan, justru berbahaya bagi kesehatan. 

Ilustrasi berjemur sinar matahari pagi.
Ilustrasi berjemur sinar matahari pagi. (Pixabau)

"Masih jam 7 pagi, jam 6, jam setengah 6, sudah ada matahari. Cahaya matahari bernama gelombang ultraviolet A itu bisa masuk ke permukaan Bumi. Nah, ultraviolet A ini yang hendak kita hindari justru, karena menyebabkan kanker dan kita tengarai menyebabkan keriput," tukasnya.

Pendapat serupa juga datang dari peneliti Pusat Penelitian Kesehatan di California William B. Grant.

Menurut dia, sinar UVA berperan penting dalam meningkatkan risiko melanoma dibandingan dengan UVB. 

Melanoma adalah salah satu jenis kanker yang menyerang kulit. Sehingga, ketika matahari berada di langit bagian bawah yang berbatasan dengan permukaan Bumi atau laut, sinar matahari yang terpancar hanya UVA dan sedikit UVB. 

"Waktu terjadinya kira-kira sekitar awal pagi hari atau sore menjelang malam hari," jelasnya.